praktikum biologi pada serangga



KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur penulis panjatkan kehadiran Allah SWT yang dapat melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, serta orang-orang yang telah membantu penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan biologi ini dengan baik. Terutama kepada ibu Wahyuli Dwindiasih M.Pd yang telah memberikan dukungan dan membimbing kami mengenai materi tentang “RESPIRASI”.
            Selain itu, telah dilaksanakannya uji coba praktikum tentang “RESPIRASI PADA SERANGGA” sehingga penulis pun dapat menyajikan hasilnya  dalam bentuk laporan.
            Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan laporan ini.
                                                                                               

Banjarbaru,10 Maret 2013

Penyusun






                                                                                                                              

DAFTAR ISI
Halaman sampul .............................................................................................  ........  i
Kata pengantar................................................................................................. ii 
Daftar isi .......................................................................................................... iii

Bab I Pendahuluan................................................................................................................... 1                                                                                                            
1.1       Latar belakang .........................................................................................  1
1.2       Tujuan       ............................................................................................... 2
1.3    waktu dan tempat....................................................................................  2

Bab II Tinjauan pustaka   ................................................................................ 3   ..........................................................................................................................                                                                                                                   
2.1 Definisi respirasi......................................................................................... 3
2.2 Respirasi pada serangga.............................................................................. 3-4                 

Bab III Metode penelitian................................................................................ 5                     ..........................................................................................................................                                                                                                                                                       
3.1 Alat dan bahan ..........................................................................................  5   
3,2 Prosedur kerja  ........................................................................................... 5-6

Bab IV Hasil dan pembahasan ......................................................................................................6                                                                                                                                           
4.1 Hasil  ..........................................................................................................6    
4,2 Pembahasan   ............................................................................................. 6-7                  
4.3 Pertanyaan Dan Diskusi............................................................................. 7                     

Bab V Penutup  ............................................................................................... 8                                                                                                               
5.1Kesimpulan .................................................................................................8                     
5.2 Saran   ........................................................................................................8                     
Daftar pustaka.................................................................................................. 9         
Lampiran   ........................................................................................................ 10-13





BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Pernapasan adalah pertukaran gas yang dibutuhkan untuk metabolisme dalam tubuh. Hewan memiliki alat-alat pernapasan yang berbeda-beda. Mamalia, Reptilia, dan Amphibia memiliki saluran pernapasan berupa paruparu. Cacing (Annelida) dan Amphibia memiliki kulit yang berfungsi juga sebagai tempat pertukaran gas. Ikan mengambil oksigen yang berada di lingkungannya (air) dengan menggunakan sistem insang. Sebagian besar Arthropoda, terutama serangga, telah memiliki sistem saluran pernapasan. Meskipun demikian, terdapat kelebihan dan kekurangan pada setiap mekanisme pernapasan yang dimiliki oleh setiap makhluk.
      Respirasi eksternal (bernapas) meliputi proses pengambilan O2 dan pengeluaran CO2 serta uap air. Pernapasan merupakan pertukaran gas antara organism dan lingkungannya. Pernapasan internal (pernapasan selurel) terjadi didalam sel. Secara garis besar, pernapasan merupakan pemecahan glukosa dengan bantuan enzim-enzim untuk menghasilkan energi. Kelompok hewan darat yang termasuk Artropoda, misalnya serangga system pernapasan berupa system pembuluh trakea. Trakea merupakan pembuluh udara yang bercabang-cabang menjadi pembuluh-pembuluh udara yang halus ke seluruh bagian tubuh. System trakea tidak mengandalkan para peredaran mentranspor oksigen dari pertukaran gas di permukaan tubuh sel-sel tubuh, sehingga oksigen tidak diedarkan melalui darah. Pada sepanjang kedua sisi tubuh serangga terdapat lubang-lubang kecil disebut stigma, yang merupakan muara pembuluh-pembuluh trakea yang selalu terbuka. Jadi, udara keluar masuk melalui stigma sebagai lubang pernapasan.
      Serangga bernapas dengan menggunakan tabung udara yang disebut trakea. Udara keluar masuk ke pembuluh trakea melalui lubang kecil setiap ruas-ruas tubuh yang disebut stigma atau spirakel. Udara dari spirakel melewati trakea, menujuke trakeol dan trakeolus. Trakeolus berukuran halus yaitu, 0,1 nano meter, ujungnyaa berbatasan dengan sel-sel tubuh, sehingga langsung terjadi difusi gas.
      Dengan adanya uraian tentang repirasi maka kami pun melakukan uji pratikum untuk melihat respirasi pada hewan.

1.2 TUJUAN PRAKTIKUM
1.      Mengetahui kecepatan respirasi pada serangga.
2.      Mengetahui faktor-fakror yang mempengaruhi laju reaksi respirasi pada serangga
1.2  WAKTU DAN TEMPAT
Laboratorium biologi SMA Negeri 3 Banjarbaru, 28 Februari 2013
Pukul 12.45 s/d selesai.













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
  2.1 DEFINISI RESPIRASI
Respirasi adalah suatu proses katabolisme, yaitu proses pembebasan energi kimia yang diperoleh dari pemecahan senyawa organik  menjadi dan O yang terkandung dalam senyawa organic pada sel hidup yang berguna untuk berbagai aktivitas tubuh. Pernapasan atau respirasi dapat juga dikatakan proses pertukaran gas yang berasal dari makhluk hidup dengan gas yang ada di lingkungannya, maksudnya adalah menganbil oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Untuk hewan yang  berukuran kecil, misalnya pada serangga, pertukaran gas dilakukan dengan menggunakan trakea,  sehingga disebut sistem pembuluh trakea. Secara sederhana, reaksi kimia yang terjadi dalam respirasi dapat dituliskan sebagai berikut:

C6H12O6 + 6O2 → 6 CO2 + 6H2O + ATP

2.2   RESPIRASI PADA SERANGGA
Serangga mempunyai alat pernapasan khusus berupa sistem trakea yang berfungsi untuk mengangkut dan mengedarkan O2 ke seluruh tubuh serta mengangkut dan mengeluarkan CO2 dari tubuh. Trakea memanjang dan bercabang-cabang menjadi saluran hawa halus yangmasuk ke seluruh jaringan tubuh oleh karena itu, pengangkutan O2 dan CO2 dalam sistem ini tidak membutuhkan bantuan sistem transportasi atau darah. Udara masuk dan keluar melalui stigma, yaitu lubang kecil yang terdapat di kanan-kiri tubuhnya. Selanjutnya dari stigma, udara masuk ke pembuluh trakea yang memanjang dan sebagian ke kantung hawa. Pada serangga bertubuh besar terjadinya pengeluaran gas sisa pernafasan terjadi karena adanya pengaruh kontraksi otot-otot tubuh yang bergerak secara teratur.
Laju metabolisme biasanya diperkirakan dengan mengukur banyaknya oksigen yang dikonsumsi makhluk hidup per satuan waktu. Hal ini memungkinkan karena oksidasi dari bahan makanan memerlukan oksigen (dalam jumlah yang diketahui) untuk menghasilkan energi yang dapat diketahui jumlahnya. Akan tetapi, laju metabolisme biasanya cukup diekspresikan dalam bentuk laju konsumsi oksigen.
Beberapa faktor yang mempengaruhi laju konsumsi oksigen antara lain temperatur, spesies hewan, ukuran badan, dan aktivitas. Laju konsumsi oksigen dapat ditentukan dengan berbagai cara, antara lain dengan menggunakan mikrorespirometer, metode Winkler, maupun respirometer Scholander.
Penggunaan masing-masing cara didasarkan pada jenis hewan yang akan diukur laju konsumsi oksigennya. Mikrorespirometer dipakai untuk mengukur konsumsi oksigen hewan yang berukuran kecil seperti serangga atau laba-laba.
Respirometer Scholander digunakan untuk mengukur laju konsumsi oksigen hewan-hewan seperti katak atau mencit. Alat ini terdiri atas syringe, manometer,tabung spesimen, dan tabung kontrol.









BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
Dalam praktikum ini, kami diberi tugas untuk mengidentifikasi proses respirasi pada serangga yaitu Belalang dan jangkrik serta mengamati proses respirasi dengan menggunakan respirometer. Setelah belalang dan jangkrik tersebut melakukan proses respirasi di dalam respirometer dan terlihat pergerakannya lalu mencatat proses respirasi tersebut beserta keterangannya serta disusun dalam suatu Laporan Praktikum.
Sebelum melakukan praktikum terlebih dahulu kita menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan, yaitu:
3.1 ALAT DAN BAHAN:
1.      Pipet
2.      Kapas
3.      Plastisin
4.      Stopwatch
5.      Respirometer
6.      Eosin secukupnya
7.      Kristal NaOH
8.      Satu ekor jangkrik
9.      Satu ekor belalang

3.2  PROSEDUR KERJA
1. Bungkuslah NaOH Kristal menggunakan kapas dan masukkan ke dalam tabung respirometer.
2 .Selanjutnya, masukkan jangkrik tersebut ke dalam tabung respirometer. Tutup rapat tabung respirometer dengan pipa kapiler berskala. Oleskan plastisin/vaselin di sekitar sambungan untuk mencegah terjadi kebocoran pada sambungan antara tabung respirometer dengan pipa kapiler berskala.
3. Tutup pipa kapiler dengan ujung jari selama 2-3 menit. Segera setelah ujung jari di lepaskan teteskan eosin secukupnya pada ujung pipa kapiler berskala dengan menggunakan pipet (hati-hati jangan sampai eosin tersedot keluar dari pipa berskala tersebut). Usahakan cairan eosin menutup ujung pipa kapiler.
4. Amati perubahan kedudukan eosin setiap satu menit selama lima menit pada pipa kapiler berskala. Catatlah hasil pengamatan anda.
5. Ulangi cara kerja di atas, menggunakan hewan belalang. Jangan lupa bersihkan eosin yang terdapat di dalam tabung respirometer pada percobaan sebelumnya.











BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL
Hasil pengamatan dari praktikum yang telah kami lakukan adalah sebagai berikut:
Jarak yang Ditempuh Eosin Menit ke  ….
Skala yang Ditempuh (cm)
Jangkrik
Belalang
1
0,08
0,08
2
0,19
0,16
3
0,28
0,21
4
0,38
0,26
5
0,44
0,3
4.2 PEMBAHASAN
Dari percobaan yang telah dilakukan, peristiwa yang membuktikan bahwa jangkrik dan belalang bernapas dengan mengambil oksigen dari lingkungan ditunjukan adanya pergerakkan eosin kearah tabung specimen ( ke dalam) karena adanya penyusutan volume udara dalam tabung tertutup tersebut.
            Oksigen dihirup oleh jangkrik dan belalang, kemudian karbondioksida yang dikeluarkan diserap oleh Kristal NaOH. Begitu terus menerus sehingga udara dalam tabung berkurang dan eosin bergerak ke dalam. Jadi zat yang berperan dalam pembuktian tersebut adalah eosin yang mengalami pergerakan kearah tabung. Kemudian bisa dilihat dari pebedaan skala waktu yang ditempuh per satuan menit ditunjukkan bahwa belalang lebih cepat menghirup Kristal NaOH. Dari bentuk tubuhnya, belalang yang dijadikan praktikum ini adalah belalang yang terbilang cukup besar.sedangkan untuk jangkriknya ukuan sedang. Sehingga ukuran badan sanatlah berpengaruh dalam proses respirasi pada serangga.
4.3 PERTANYAAN DAN DISKUSI
Petanyaan
1.   Apa fungsi penambahan NaOH pada percobaan tersebut?
2.   Apa fungsi cairan eosin pada percobaan tersebut?
3.   Mengapa terjadi perbedaan perbandingan jarak yang di tempuh eosin antara jangkrik dan belalang?
4.   Apa hubungan berat  badan  serangga dengan  kebutuhan oksigen untuk respirasinya?
Jawaban:
1.   Untuk mengikat CO2 agar jangkrik tidak menghirup CO2 yang dikeluarkan setelah bernapas. Kristal NaOH dapat mengikat CO2 karena bersifat hidroskopis.
2.   Untuk mengetahui seberapa cepat oksigen berkurang dalam tabung  yang  berisi NaOH dan serangga
 3. Karena perbedaan struktur organ, pengaturan fungsi, jalur (tahapan) metabolisme, dan perbedaan berat antara belalang dan jangkrik
4. Dengan  berat  tubuh  lebih  besar  membutuhkan  energi  yang  relative  lebih besar. Oleh karena itu semakin berat tubuh jangkrik, semakin banyak membutuhkan oksigen, sedangkan semakin ringan berat tubuh jangkrik semakin sedikit kebutuhan oksigen.



BAB V
P E N U T U P
  5.1  KESIMPULAN
            Dari percobaan kelompok kami lakukan dapat di simpulkan beberapa hal terkait dengan pernafasan pada jangkrik yaitu;
1.      Jankrik bernafas dengan menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida.
2.     Fungsi dari KOH dalam percobaan adalah untuk mengikat gas buangan karbondioksida dari pernafasan jangkrik.
3.      Fungsi eosin pada percobaan sebagai petunjuk laju kecepatan pernafasan.
4.      faktor – faktor yang mempengaruhi pernafasan pada jangkrik dan belalang adalah ukuran atau berat badan tubuh jangkrik dan belalang, ketersediaan oksigen yang cukup dalam ruangan (respirometer), suhu ruangan.

  5.2 SARAN
  • Keberhasilan percobaan/eksperimen ini tergantung tergantung pada bocor tidaknya alat. Disarankan hubungan antara tabung dan bagian berskala diolesi dengan vaselin lalu diputar-putar.
  • Perubahan suhu udara (bila menjadi panas) menyebabkan titik air yang sudah bergerak ke arah tabung dapat bergerak kembali ke arah luar. Oleh karena itu sebaiknya percobaan diadakan dalam waktu perubahan suhu tidak besar. Sebaliknya bila suhu menurun, tetes air cepat bergerak ke arah tabung spesimen.
  • Sebelum disimpan, spesimen hewan dikembalikan ke tempatnya dan KOH yang biasanya meleleh segera dikeluarkan dan tabung dicuci bersih. Jika kurang bersih dan tabung tertutup, maka akan terjadi respirometer tak dapat dibuka lagi, karena merekat oleh KOH.

DAFTAR PUSTAKA
Syamsuri I, dkk., 2003. Biologi Jilid 2B untuk SMA Kelas IX Semester 2. Jakarta : Erlangga













LAMPIRAN
Description: H:\BlackBerry\camera\IMG-20130227-00548.jpg
Gambar respirometer


Description: H:\BlackBerry\camera\IMG-20130227-00551.jpg
Mengukur kecepatan eosin permenit

Description: G:\ipa 2\IMG-20130227-00550.jpg
Belalang pada saat menghirup Kristal NaOH

Description: H:\BlackBerry\camera\IMG-20130227-00555.jpg
Menugkur, mencatat dan mendiskusikan


Description: H:\BlackBerry\camera\IMG-20130227-00562.jpg
Setelah praktek belalang dikeluarkan
Description: F:\27022013138.jpg
Pembersihan respirometer.


PRAKTIKUM BIOLOGI
RESPIRASI PADA SERANGGA
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi-AH3gxt2-yeq5x2EkOsg_r3BZH0QM33Z3CmyA_fOhr1STY9Zw269BUY6ZLeePkQRRsA-7x3_5r6DYs4wKSVk8CZqJnbwoqhV63DB9IVSlfvVVYpC7qeV1fLMkdwnrP3OQ5vKlEZbf4Ac/s1600/smaga.jpg
OLEH:
FITRIA AGUSTINA
M.NOOR MAULANA Y
NUR AMALIA
NURUL HASANAH
KELAS  :  XI IPA 2

PROGRAM  ILMU  :  IPA


PEMERINTAH  KOTA  BANJARBARU 
DINAS  PENDIDIKAN
SMA  NEGERI  3  BANJARBARU
TAHUN  PELAJARAN
2012/2013




Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENDENGARAN DAN PENGLIHATAN

Makalah Penelitian Air Sungai Martapura Banjarmasin

jurnal seminar hukum ohm