jurnal seminar hukum ohm

 Hukum Ohm, Rangkaian Seri dan Paralel
 (LM-2)

Fitri Andriyani Puspitasari, Nurul Hasanah , Irma Sari , Anastasya Eka Purnamasari, Muhammad Sirat, Hayatul Mu’awwanah
Jurusan
Pendidikan Matematika dan Ipa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat  Jl. Brigjen H. Hasan Basri Komp. Unlam Kayutangi, Banjarmasin 70123
e-mail: info@unlam.ac.id

Abstrak Percobaan ini bertujuan untuk mengukur besarnya tahanan dari suatu hambatan dengan menerapkan hukum Ohm, memahami perbedaan rangkaian seri dan paralel, dan mengukur besarnya nilai sutu tahanan yang dirangkain tersebut. Percobaan ini dilakukan melalui tiga kegiatan yang masing-masing dilakukan sebanyak tiga kali percobaan. Adapaun hasil yang diperoleh adalah {(12,6 ± 0,3)Ω; (8,46 ± 0,35)Ω; (8,00 ± 0,40)Ω; (24,7 ± 0,5)Ω; (18,9 ± 0,5)Ω; (17,0 ± 0,6)Ω; (10,8 ± 0,2)Ω; (8,02 ± 0,20)Ω; (5,45 ± 0,32)Ω} dengan KR {2,38%; 4,14%; 5%;2,19%; 2,64%;3,47%; 1,40%; 2,50%; 5,87%} dan DK sebesar {97,62%; 95,86%; 95%; 97,81%;97,36%;96,53%; 98,60%; 97,50%; 94,13%}. Dari semua hasil percobaan yang telah dilakukan dapat dikatakan hasil yang diperoleh telah sesuai dengan rumusan hipotesis yang menjadi acuan dalam percobaan ini.

Kata KunciArus Listrik, Hukum Ohm, Kuat Arus Listrik, Rangkaian Paralel, Rangkaian Seri, dan Tegangan.

I.     PENDAHULUAN

RESISTANSI adalah hambatan terhadap aliran asrus listrik. Satuan resistansi adalah ohm. Hukum ohm merupakan besar arus listrik yang mengaliri sebuah penghantar dan berbanding lurus dengan beda potensial yang diterapkan padanya. Hukum ohm yang bekerja pada suatu penghantar jika nilai resistansinya tidak bergantung pada polaritas yang dikenakan pada benda. Hukum mulanya terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah definisi hambatan yaitu tegangan merupakan hasil dari arus listrik yang dikalikan dengan hambatan. Bagian kedua adaah pernyataan bahwa hambatan suatu kosntanta yang tidak tergantung pada tegangan maupun kuat arus. Hukum ohm dalam kehidupan sehari-hari sudah sering dijumpai pada penggunaan alat-alat kelistrikan yang memakai rangkaian listrik. Rangkaian listrik ada dua yaitu rangkaian seri dan paralel. Untuk lebih memahami penjelasan diatas, maka dilakukan percobaan hukum ohm pada rangkaian seri dan paralel.

Dari latar belakang diatas dapat diambil beberapa rumusan masalah yaitu sebagai berikut: “Bagaimana hubungan antara arus dan tegangan terhadap nyala lampu ?”, “Bagaimana arus dan tegangan yang terjadi pada rangkaian seri dan paralel ?”, “Bagaimanakah nyala lampu yang tejadi pada rangakain seri dan paralel ?”.

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah mengukur besarnya tahanan dari suatu hambatan (elemen setrika atau lampu) dengan menerapkan hukum Ohm, memahami perbedaan rangkaian seri dan paralel, dan mengukur besarnya nilai sutu tahanan yang dirangkain seri dan paralel.

II.    KAJIAN TEORI

A.              Hukum Ohm

Dalam arus listrik terdapat hambatan listrik yang menentukan besar kecilnya arus listrik. Semakin besar hambatan listrik, semakin kecil kuat arusnya, dan sebaliknya. Arus listrik terdiri dari muatan-muatan yang bergerak dari sutau daerah ke daerah lainnya. Bila gerak ini berlangsung di dalam sebuah lintasan konduksi yang membentuk sebuah simpal tertutup, maka lintasa itu dinamakan rangkaian listrik. Kuat arus listrik didefinisikan sebagai jumlah muatan yang melalui sebuah penghantar dalam satu satuan waktu. Secara sistematis dituliskan sebagai :

                                                                                                                                                                                                                        (1)

Kuat arus listrik juga diartikan sebagai banyaknya muatan yang berpindah dalam penghantar setiap detiknya. Sedangkan tegangan adalah beda potensial antara ujung-ujung resistor. Dan hambatan adalah nilai perbandingan antara tegangan dan kuat arus listrik.  Hukum Ohm dicetuskan oleh seorang ahli fisika berkebangsaan Jerman yaitu George Simon Ohm (1787-1854) setelah melakukan eksperimen pada tahu 1927 untuk mengetahui hubungan kuat arus dan tegangan dalam suatu rangkaian listrik yang berbunyi: “Tegangan (V) dalam suatu komponen listrik sebanding dengan kuat arus listrik yang melalui komponen tersebut, asalkan hambatan (R) konstan”.

                                                                                                                                                                                                                                                                  (2)

Melalaui eksperimennya menyimpulkan bahwa I pada kawat sebanding dengan beda potensial V yang diberikan ke ujung-ujung kawat penghantar tersebut . Besarnya arus yang mengalir pada kawat penghantar tidak hanya bergantung pada tegangan, tetapi juga pada hambatan yang dimiliki kawat terhadap aliran elektron. Kuat arus listrik berbanding terbalik dengan hambatan seperti persamaan dibawah ini :

                                                                                                                                                                                                                                                           (3)

Aliran elektron pada kawat penghantar diperlambat karena adanya interaksi dengan atom-atom kawat. Makin besar hambatan ini, makin kecil arus untuk suatu tegangan V. Dengan demikian, arus I yang mengalir berbanding lurus dengan beda potensial antara ujung-ujung kawat penghantar dan berbanding terbalik dengan hambatannya[1].

Persamaan hukum Ohm telah disajikan pada penjelasan sebelumnya yaitu pada persamaan (2). Dari persamaan tersebut dapat disimpulkan, bahwa:

1)       Hambatan penghantar sama, tidak peduli berapapun tegangan yang digunakan untuk mengukur arus.
2)       Kuat arus dalam suatu rangkaian adalah sebanding dengan tegangan yang diberikan dan berbanding terbalik dengan hambatannya.

Kesimpulan di atas berlaku untuk penghantar logam yang bertemperatur konstan selama penegukurannya.

                                                                                                                                                                                                                                         (4)[2].

Rangkaian listrik yang kita jumpai sehari – hari biasanya tidak hanya terdiri dari satu sumber tegangan dan satu hambatan saja, tetapi meliputi beberapa sumber, hambatan atau unsur – unsur lain yang dihubungkan satu dengan yang lain. Istilah yang umum dipakai untuk rangkaian semacam ini adalah jaringan.

Bila arus listrik mengalir dalam suatu rangkaian yang hanya terdiri dari satu sumber tegangan dan satu hambatan, maka berlaku hukum Ohm seperti pada persamaan (2).


Gambar 1. Rangkaian Hukum Ohm

Bila arus yang masuk ke dalam rangkaian diketahui dan tegangan yang melewati hambatan dapat diukur, maka nilai hambatan bisa dihitung dengan persamaan hukum Ohm diatas (persamaan 2)[3].

Sebuah resistor adalah sebuah konduktor dengan hambatan tertentu. Resistor memiliki hambatan yang sama tanpa memperdulikan besar dan arah (polaritas) dan beda potensial yang diaplikasikan. Akan tetapi, alat konduksi lain mungkin memiliki hambatan yang berubah terhadap beda potensial yang diaplikasikan. Gambar 2, menunjukkan cara membedakan alat-alat tersebut. Beda potensial V diaplikasikan melalui sesuatu alat yang diuji dan arus I yang dihasilkan melalui alat yang diukur sebagai V yang bervariasi baik didalam besar maupun polaritas. Arah V berubah-ubah menjadi positif apabila terminal kiri dari alat tersebut berada pada potensial yang lebih tinggi daripada terminal kanan. Arah arus yang dihasilkan (dari kiri ke kanan) ditetapkan dengan tanda positif secara berubah-ubah. Polaritas balik dari V (dengan terminal kanan berada pada potensial yang lebih besar) kemudian menjadi , arus ini menyebabkan penetapan tanda minus.

Gambar 2 Sebuah alat dengan terminal beda potensial V yang dipantulkan menembus arus I.

Karena tidak ada alat yang dapat menentukan dan pada persamaan (7) secara langsung, maka kita tempuh cara berikut :

                                                                                                                                                                                                                                        (5)

Kita pilih hasil kali diferensial dari kedua arus dengan unsur panjang konduktifitas menurut rapat arus , dan diintegrasikan melalui konduktor mulai dari titik a ke b karena dan itu sejajar maka :

                                                                                                                                                            (6)

Dan karena arus I bagi semua penampang lintang sama besar, maka :

                                                                                                                                                                                                 (7)

Integral disebelah kanan disebut resistansi (tahanan listrik) = R listrik antara titik a dan b didalam hal ini.

                                                                                                                                                                                                                                               (8)

Sehingga persamaan (8) dapat ditulis sebagai :


                                                                                                                                                                                                                                                                (9)

Persamaan (9) inilah yang dikenal sebagai hukum Ohm. Kuat arus yang timbul karena beda potensial tergantung pada potensial tersebut.

Description: C:\Users\ACER\Documents\Jurnal Ilmiah praktikum\LM-2\IMG_20150502_182954.jpg

Gambar 3 Rangkain hukum Ohm

                                                                                                                                                                                                                      (10)[4].


Untuk persamaan hukum Ohm yang telah disebutkan sebelumnya, dapat dilukiskan dengan grafik persamaan berikut ini :

Dalam persamaan (2) harga R tidak bergantung pada i. Sehingga grafik I-V bersifat linear. Bahan dengan sifat seperti ini dikatakan bersifat ohmik. Pada harga arus yang besar temperatur bahan menjadi tinggi, dan bahan menjadi bergantung pada arus. Grafik I -V tidak linear lagi dan bahan tak lagi bersifat Ohmik. Hukum Ohm tidak berlaku disini, sebelum menggunakan hukum Ohm, telitilah lebih dulu apakah bahan bersifat Ohmik. Bila tidak, hukum Ohm tidak berlaku[5].

Untuk mengahasilakan arus listrik pada rangkaian, dibutuhkan beda potensial. Satu cara untuk menghasilkan beda potensial ialah dengan baterai. George Simon Ohm menentukan dengan eksperimen bahwa arus pada kawat logam sebanding dengan beda potensial V yang diberikan keujung – ujungnya:

                                                                                                                                                                                                                                                      (11)

Sebagai contoh, jika kita menghubungkan kawat ke baterai 6 V, aliran arus akan dua kali lipat dibandingkan jika dihubungkan ke baterai 3 V. Besarnya aliran arus pada kawat tidak hanya tergantung pada tegangan, tetapi juga pada hambatan yang diberikan kawat terhadap aliran elektron. Makin tinggi hambatan maka makin kecil arus I untuk suatu tegangan V. Kita kemudian mendefinisikan hambatan sehingga arus berbanding terbalik dengan hambatan. Ketika kita menggabungkan hal ini dan kesebandingan di atas kita dapatkan persaamaan (3). Satuan untuk hambatan disebut Ohm dan simbolnya Ω (huruf besar Yunani untuk Omega) karena 1, 0 Ω ekivalen dengan 1, 0 [6].

B.              Rangkaian Seri

Rangkaian seri adalah rangkaian listrik yang komponen penyusunnya dipasang sejajar. Rangkaian hukum Ohm yang sangat sederhana , hanya terdiri dari satu hambatan, tetapi bila di dalam rangkaian terdiri atas lebih dari satu hambatan yang disusun antara titik a dan b membentuk hanya satu titik lintasan antara kedua titik maka rangkaian hambatan disebut rangkaian seri. Bila hanya ada satu titik lintasan, maka arus yang mengalir sama besarnya untuk masing – masing hambatan didalam rangkaian tersebut.

Gambar 4. Rangkaian seri dari dua hambatan[3].

Pada gambar 5, ditunjukkan bahwa tiga buah resisitor yang disusun seri dan dihubungkan dengan sebuah sumber tegangan V. Perhatikan bahwa arus listrik yang mengalir melalui ketiga hambatan adalah sama, tetapi tegangannya berbeda, bergantung besar hambatannya. Jadi, pada resisitor yang disusun seri seperti gambar 5 berlaku :
Description: C:\Users\ACER\Documents\Jurnal Ilmiah praktikum\LM-2\TyM1V5u3NaETBAmFuOeaJ228tQqTZDpV9P6o1_JyexXoM0bHDQ5S63fmueQQdJ--mzB7Y-iKcsc2JbWHtmfNEp7gDhzDjoxr2kYA9bE2znXB-Yu8FZz0=w391-h254-nc.jpeg

Gambar 5 Tiga resistor yang dirangkai seri

                                                                                                                                                               (12)

                                                                                                                                                                (13)

Jika kita ingin mengganti ketiga resisitor tersebut dengan sebuah resisitor tunggal, Rs yang disebut resisitor pengganti seri, maka berlaku :

                                                                                                                                                                      (14)

Jadi, resistor pengganti dari susunan beberapa resisitor sama dengan jumlah dari seluruh resistor-resistor tersebut secara umum, untuk buah resistor yang dihubungkan secara seri berlaku :

                                                                                 (15)[7]

Ketika arus hanya dapat mengalir mengikuti satu jalur saat arus tersebut mengalir melalui dua atau lebih resistor yang dihubungkan satu sama lain, dikatakan resistor – resistor tersebut terangkai secara seri. Dengan kata lain, jika satu dan hanya satu terminal resistor dihubungkan secara langsung ke satu dan hanya satu terminal resistor yang lain. Keduanya terangkai seri dan arus yang sama mengalir melewati keduanya. Sebuah simpal adalah satu titik yang terdiri dari tiga atau lebih cabang atau kawat yang membawa arus bertemu. Dalam rangkaian seri, tidak ada simpal antara elemen – elemen rangkaian (seperti kapasitor, resistor, dan baterai). Kasus umum dapat dilihat pada gambar 6 dibawah ini. Untuk beberapa resistor yang terangkai secara seri, hambatan ekivalennya Rek ditentukan oleh:

                                                                                                                          (16)

Dimana, , ,... adalah hambatan dari beberapa resistor. Dalam rangkaian seri, arus yang melewati setiap hambatan yang lainnya. Penurunan potensial masing – masing. Hambatan ekivalen dalam rangkaian seri selalu lebih besaar daripada hambatan – hambatan individu terbesar.


Gambar 6. Resistor dalam rangkaian seri[8].

Kelemahan susunan seri, jika salah satu filamen lampu putus, maka rangkaiaan listrik berubah menjadi terbuka. Sebagai hasilnya lampu R2 yang masih baik ikut padam. Jika salah satu filamen lampu terputus seluruh lampu akan padam dan harus diperiksa satu demi satu lampu tersebut akan menemukan lampu yang rusak, kemudian menggantinya dengan lampu biru. Pekerjaan memeriksa lampu ini memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu, tidaklah merangkai komponen –komponen listrik secara seri.

Dalam banyak rangkaian, sakering sengaja dipasang seri dengan rangkaian komponen – komponen lain untuk tujuan pengamanan, konduktor pada sakering  didesain untuk melebur dan membuka rangkaian pada arus maksimum tertentu yang bergantung pada batas arus yang melalui komponen yang dirangkai seri dengan sakering. Jika sakering tidak digunakan , arus yang melebihi batas dapat merusak komponen – komponen pada rangkaian, mengakibatkan pemanasan lebih pada kawat atau kabel penghantar yang dapat memungkinkan terjadinya kebakaran. Dalam instalasi listrik rumah, pemutus daya (circuit breaker) digunakan sebagai pengganti sakering. Ketika kuat arus dalam rangkaian melebihi nilai tertentu, pemutus daya akan bertindak sebagai sakelar dan memutus rangkaian secara otomatis[9].

C.              Rangkaian Paralel

Rangkaian paralel adalah rangkaian listrik yang komponen penyusunnya dipasang berderet. Hambatan-hambatan akan dikatakan paralel bila masing – masing hambatan mempunyai lintasan alternatif antara titik a dan b. dalam rangkaian paralel beda tegangan pada masing – masing hambtaan sama besarnya.

Gambar 7. Rangkaian paralel dari dua hambatan[3].

Pada gambar 8 ditunjukkan bahwa tiga buah resisitor yang disusun paralel dan dihubungkan dengan sumber tegangan V.

Ketika resistor-resitor disusun paralel, maka tegang an pada masing-masing resisitor sama besar yaitu :

Description: C:\Users\ACER\Documents\Jurnal Ilmiah praktikum\LM-2\TyM1V5u3NaETBAmFuOeaJ228tQqTZDpV9P6o1_JyexXoM0bHDQ5S63fmueQQdJ--mzB7Y-iKcsc2JbWHtmfNEp7gDhzDjoxr2kYA9bE2znXB-Yu8FZz0=w391-h254-nc.jpeg

Gambar 8 Tiga resistor yang dirangkain paralel

                                                                                                                                                              (17)

Sedangkan arus listrik dari baterai dibagi ke tiga resistor, sehingga berlaku :

                                                                                                                                                                                 (18)

Jika kita ingin mengganti ketiga resistor yang dihubungkan secara paralel berlaku :

                                                                                                                                             (19)

Secara umum, untuk buah resistor yang dihubungkan secara paralel berlaku :

                                                                         (20)

                                                                                                                                                                                          (21)[7].


Beberapa resistor dihubungkan secara paralel antara dua simpul jika satu ujung dari masing – masing resistor dihubungkan ke salah satu simpal dan ujung yang lain. Kasus umum dapat dilihat pada gambar 7. Di bawah ini, dimana titik a dan b adalah simpal. Hambatan ekivalennya Rek ditentukan oleh persamaan (19).

Hambatan ekivalen dalam rangkaian paralel selalu lebih kecil dari hambatan – hambatan individu terkecil. Perubahan hambatan dalam rangkaian paralel mengulang Rek rangkaian tersebut. Penurunan potensial V pada satu resistor dalam rangkaian paralel adalah sama dengan penurunan potensial dari setiap resistor lainnya. Arus yang melewati resistor ke adalah:

                                                                                                                                                                                                                                                    (22)

Dan jumlah arus yang memasuki rangkaian tersebut sama dengan jumlah arus pada setiap cabang.


Gambar 9. Resistor dalam rangkaian paralel[8].

Rangkaian paralel juga disebut rangkaian sejajar. Pada rangkaian paralel, resistor terbagi menjadi bermacam-macam cabang yang terpisah tampak pada gambar 9. Pemasangan alat-alat listrik pada rumah-rumah, gedung-gedung dipasang secara paralel. Jika memutuskan hubungan dengan satu alat (misalnya R, pada gambar 8). Maka arus yang mengalir pada komponen lain yaitu R2 dan R3 tidak terputus. Tetapi pada rangkaian seri, jika salah satu komponen terputus maka arus komponen lain juga akan berhenti.

Pada rangkaian paralel, arus total yang berasal dari sumber (baterai) terbagi menjadi tiga cabang. Perhatikan dengan seksama gambar berikut :

Arus yang keluar dimisalkan, , danberturut-turut sebagai arus yang melalui resistor , , . Oleh karena muatan kekal, arus yang masuk ke dalam titik cabang harus sama dengan arus yang keluar dari titik cabang, sehingga dapat diperoleh persamaan (18). Ketika rangkaian paralel tersebut terhubung dengan sumber tegangan V, masing-masing mengalami tegangan yang sama yaitu V. Berarti, tegangan penuh baterai diberikan ke setiap resisitor, sehingga :

                                                                                                           (23)

Hambatan pengganti susunan paralel (Rp) akan menarik arus I dari sumber yang besarnya sama dengan arus total ketiga hambatan paralel tersebut. Arus yang mengalir pada hambatan pengganti harus memenuhi :

                                                                                                                                                                                                                                          (24)

Kemudian substansi bagi setiap arus dengan V, maka didapatkan nilai hambatan pengganti (Rp) rangkain paralel :

                                                                                                                      (25)[1].


Resistor paralel ditambahkan secara terbalik karena arus dalam setiap resistor sebanding dengan tegangan bersama yang melewati resistor-resistor itu dan berbanding terbalik dengan setiap hambatan. Untuk khusus dua resistor paralel, maka berlaku :

                                              (26)

Karena maka dapat :

                                                                                                                                                                                                                                                     (27)

Ini memperlihatkan bahwa arus yang diangkut oleh resistor paralel berbanding terbalik dengan hambatannya, lebih banyak arus yang melalui lintasan yang hambatannya paling kecil[10].

III.  METODE PERCOBAAN

Pada percobaan Hukum Ohm, Rangkaian seri dan Paralel dibutuhkan peralatan seperti gambar 3.1 yaitu bola lampu dan tempat dudukan lamupu 2 buah, power supply 1 buah, basicmeter 4 buah, tahanan geser 1 buah, dan kabel penghubung 15 buah.


Gambar 10 Power supply


Gambar 11 Kabel penghubung


Gambar 12 Tahanan geser


Gambar 13 Lampu dan dudukan lampu


Gambar 14 Basicmeter

Adapun rumusan hipotesis yang digunakan sebagai acuan dalam percobaan ini ada tiga yaitu: “Jika arus dan tegangan yang dihasilkan besar maka nyala lampu yang dihasilkan semakin terang”, “Hambatan pada rangkaian seri lebih besar daripada hambatan pada rangkaian paralel”, “Nyala lampu yang terjadi pada rangkaian paralel lebih terang daripada pada rangkaian seri”.

Dalam percobaan ini dilakukan melalui tiga kegiatan yang berbeda yaitu pertama melalukan percobaan hukum Ohm yang dilakukan melalui tiga kali pengambilan data. Dalam kegiatan pertama ada tiga variabel yang digunakan yaitu variabel manipulasi, variabel respon, dan variabel kontrol. Variabel manipulasinya yaitu kuat arus. Menggeser-geser tahanan geser untuk memperoleh arus yang berbeda-beda disetiap percobaannya. Variabel respon dalam percobaan pertama ini yaitu kuat arus dan tegangan. Mengamati serta mencatat besar tegangan dan kuat arus listrik yang dihasilkan dalam percobaan Variabel kontrolnya adalah Vinput , jenis rangkaian, kabel penghubung dan spesifikasi lampu. Selama percobaan tetap menggunakan bola lampu dengan jenis yang sama atau spesifikasi lampu yang sama yaitu sebesar 3,8 V, menggunakan jumlah kabel penghubung yang sama yaitu sebanyak 15 buah, sedangkan untuk Vinput yang digunakan sebesar 9 V dan menggunakan jenis rangkaian yang sama selama percobaan yaitu rangkaian hukum Ohm.

Untuk percobaan kedua yaitu melakukan percobaan dengan menggunakan rangkaian seri. Adapun variabel-variabel yang digunakan pada kegiatan kedua yaitu varibel manipulasi, variabel respon, dan variabel kontrol. Variabel manipulasi yaitu kuat arus. Menggeser-geser tahanan geser untuk memperoleh arus yang berbeda-beda disetiap percobaannya. Variabel responnya yaitu kuat arus, tegangan listrik yang terbagi dan tegangan total. Mengamati dan mencatat besar arus, tegangan total, dan tegangan yang terbagi-bagi yang dihasilkan selama percobaan. Variabel kontrolnya adalah Vinput , jenis rangkaian, kabel penghubung dan spesifikasi lampu. Selama percobaan tetap menggunakan bola lampu dengan jenis yang sama atau spesifikasi lampu yang sama yaitu sebesar 3,8 V, menggunakan jumlah kabel penghubung yang sama yaitu sebanyak 15 buah, sedangkan untuk Vinput yang digunakan sebesar 9 V dan menggunakan jenis rangkaian yang sama selama percobaan yaitu rangkaian seri.

Sedangkan, pada percobaan ketiga yaitu percobaan dengan menggunakan rangkaian paralel. Sama seperti kegiatan lainnya, pada kegiatan ini juga menggunakan tiga jenis variabel. Variabel manipulasinya yaitu kuat arus. Menggeser-geser tahanan geser untuk memperoleh arus yang berbeda-beda disetiap percobaannya. Variabel responnya adalah kuat arus listrik, kuat arus yang terbagi dan tegangan listrik. Mengamati dan mencatat besar kuat arus listrik, kuat arus listrik yang terbagi-bagi, dan tegangan yang diperoleh selama percobaan. Variabel kontrolnya adalah Vinput , jenis rangkaian, kabel penghubung dan spesifikasi lampu. Selama percobaan tetap menggunakan bola lampu dengan jenis yang sama atau spesifikasi lampu yang sama yaitu sebesar 3,8 V, menggunakan jumlah kabel penghubung yang sama yaitu sebanyak 15 buah, sedangkan untuk Vinput yang digunakan sebesar 9 V dan menggunakan jenis rangkaian yang sama selama percobaan yaitu rangkaian paralel.

Untuk semua kegiatan dimulai dengan merangkai alat seperti pada gambar 15, 16, dan 17. Untuk kegiatan pertama, menghubungkan arus positif pada power supply ke voltmeter, kemudian menghubungkan voltmeter ke lampu, kemudian arus pada lampu dialirkan ke tahanan geser yang kemudian dari tahanan geser dialrkan ke arus negatif yang terdapat pada power supply. Setelah selesai merangkai alat, perhatikan kembali rangkaian, pada voltmeter terdapat kabel penghubung yang tersambung ke lampu maka dibuat simpangan dengan menggunakan kabel penghubung yang kemudian di sambungkan ke voltmeter dan dari voltmeter disambungkan pada kabel penghubung yang terdapat pada lampu dan menuju ke tahanan geser (lihat gambar 15), mencatat nilai tegangan dan arus yang diperoleh, kemudian menggeser besar tahanan geser sehingga diperoleh nilai tegangan dan arus yang berbeda-beda. Untuk kegiatan dua, menghubungkan arus positif pada power supply dialirkan ke amperemeter yang kemudian dialirkan ke lampu 1 dan dialirakan lagi ke lampu 2 dan diteruskan ke tahanan geser yang kemudian dilanjutkan ke arus negatif pada power supply. Dari lampu 1 dialirkan ke voltmeter 1 yang kemudian dialirakan ke lampu 2 kemudian ke voltmeter 2. Dari amperemeter disambungkan ke voltmeter utama yang kemudian langsung dihubungkan dengan lampu, voltmeter 2 yang mengarah ke tahana geser (lihat gambar 16), mencatat besar tegangan dan arus yang dihasilkan, kemudian menggeser besar tahanan geser sehingga diperoleh nilai tegangan dan arus yang berbeda-beda. Untuk kegiatan ketiga, arus positif pada power supply dialirkan ke amperemeter yang kemudian dialirkan ke lampu 1 dan lampu 2 yang kemudian dari masing-masing lamupu dialirkan pada masing-masing amperemeter yang kemudian arus bertemu dan dialirkan ke tahanan geser dan berlanjut menuju arus negatif pada power supply, dari amperemeter arus juga dialirkan ke voltmeter yang kemudian arus bertemu dengan arus yang berasal dari amperemeter 1 dan 2 yang menuuju pada tahanan geser dan arus negatif power supply (lihat gambar 17) mencatat besar tegangan dan arus yang dihasilkan, kemudian menggeser besar tahanan geser sehingga diperoleh nilai tegangan dan arus yang berbeda-beda. 


Gambar 15 Hukum Ohm


Gambar 16 Rangkaian Seri


Gambar 17 Rangkaian Paralel

Sedangkan teknik analisis yang digunakan dalam percobaan ini adalah :

IV.  ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN


1.          Percobaan pada rangkaian Hukum Ohm

Pada percobaaan Hukum Ohm, Rangkaian Seri dan Paralel dilakukan tiga kegiatan yang berbeda-beda. Untuk kegiatan pertama yaitu menggunakan rangkaian hukum Ohm, dalam kegiatan ini dilakukan tiga kali percobaan. Pada percobaan pertama diperoleh hasil tegangan sebesar (4,80 ± 0,05) V dan arus sebesar (0,380 ± 0,005) A, pada percobaan kedua tegangan yang diperoleh sebesar (2,20 ± 0,05) V sedangkan arusnya yaitu (0,260 ± 0,005) A, dan untuk percobaan ketiga diperoleh tegangan dan arus sebesar (1,60 ± 0,05) V dan (0,200 ± 0,005) A secara berturut-turut. Berikut ini merupakan tabel data hasil percobaan pada kegiatan pertama :

Tebel 1 Rangkaian hukum Ohm

No
(V ± ΔV) V
(I ±ΔI) A
1
(4,80 ± 0,05)
(0,380 ± 0,005)
2
(2,20 ± 0,05)
(0,260 ± 0,005)
3
(1,60 ± 0,05)
(0,200 ± 0,005)

Dari hasil perhitungan Percobaan Hukum Ohm dan Rangkaian Seri Paralel dengan tiga kali kegiatan yaitu kegiatan pertama rangkaian satu hambatan atau hukum Ohm, kegiatan kedua rangkaian seri dan kegiatan ketiga rangkaian paralel, persamaan yang digunakan dalam percobaan Hukum Ohm dan Rangkaian Seri dan Paralel adalah dengan menggunakan rumus persamaan:


Adapun hasil yang diperoleh pada kegiatan pertama ini adalah (12,6 ± 0,3)Ω dengan KR sebesar 2,38% dan DK sebesar 97,62% untuk percobaan pertama, untuk percobaan kedua, hasil yang diperoleh adalah (8,46 ± 0,35)Ω dengan KR dan DK berturut-turut sebesar 4,14% dan 95,86%, dan untuk percobaan ketiga diperoleh hasil sebesar (8,00 ± 0,40)Ω dengan KR sebesar 5% dan DK sebesar 95%.

Berikut ini ditampilkan grafik hubungan antara tegangan (V) dan kuat arus listrik (I) pada hukum Ohm:

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa semakin besar kuat arus maka tegangan yang dihasilkan juga semakin besar yang berarti tegangan berbanding lurus dengan kuat arus listrik.


2.          Percobaan pada rangkaian seri

Untuk kegiatan kedua digunakan rangkaian seri, pada kegiatan ini dilakukan percobaan sebanyak tiga kali, adapun tabel data yang dihasilkan yaitu :

Tabel 2 Rangkaian seri

No
(V ± ΔV) V
(V1 ± ΔV) V
(V2 ± ΔV) V
(I ±ΔI) A
1
(7,80± 0,05)
(3,90 ± 0,05)
(4,00 ± 0,05)
(0,320 ± 0,005)
2
(5,40 ± 0,05)
(2,70 ± 0,05)
(2,80 ± 0,05)
(0,290 ± 0,005)
3
(3,90 ± 0,05)
(1,90 ± 0,05)
(2,00 ± 0,05)
(0,230 ± 0,005)

Adapun hasil yang diperoleh untuk percobaan kedua ini adalah (24,7 ± 0,5)Ω dengan KR dan DK sebesar 2,19% dan 97,81% secara berturut-turut untuk percobaan pertama, percobaan kedua yaitu sebesar (18,9 ± 0,5)Ω dengan KR yaitu 2,64% dan DK sebesar 97,36%, sedangkan untuk percobaan ketiga adalah (17,0 ± 0,6)Ω dengan KR yaitu 3,47% dan DK yaitu 96,53%.

Hasil tegangan yang terjadi yaitu pada pengambilan data pertama hasilnya sebesar (7,90 ± 0,05) V untuk Vtotal-nya sedangkan untuk Vmasuk  sebesar (7,80± 0,05) V, data kedua Vtotal-nya sebesar (5,50 ± 0,05) V sedangkan untuk Vmasuk  yang diperoleh sebesar (5,40 ± 0,05) V dan untuk data ketiga diperoleh hasil Vtotal-nya sebesar (3,90 ± 0,05) V yang sama dengan Vmasuk  yaitu sebesar (3,90 ± 0,05) V. Seharusnya, nilai Vtotal yang diperoleh sama dengan Vmasuk, sedangkan pada pengambilan data yang dilakukan sebanyak tiga kali ini hanya pada data yang ketiga yang memiliki tegangan total atau Vtotal yang memiliki nilai yang sama dengan tegangan yang masuk atau Vmasuk, hal itu dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya kurang teliti dalam membaca alat ukur.

Dapat disimpulkan bahwa pada  rangkaian paralel memiliki empat prinsip susunan dari tahanan listrik yaitu:

a.        Susunan seri bertujuan untuk memperbesar hambatan suatu rangkaian.

b.        Kuat arus yang melalui tiap – tiap resistor penyusun adalah sama – sama, yaitu sama dengan kuat arus yang melalui resistor pengganti serinya.


c.         Tegangan pada ujung – ujung resistor pengganti seri sama dengan jumlah tegangan pada ujung – ujung tiap resistor individu/ penyusun.


d.        Susunan seri berfungsi sebagai pembagi tegangan, dimana tegangan pada ujung – ujung tiap resistor sebanding dengan besar hambatannya.

3.          Percobaan pada rangkaian paralel

Untuk kegiatan ketiga menggunakan rangkaian paralel, pada kegiatan ini juga dilakukan percobaan sebanyak tiga kali, adapun  data yang diperoleh yaitu :

Tabel 3 rangkaian paralel

No
(I ±ΔI) A
(I1 ±ΔI) A
(I2 ±ΔI) A
(V ± ΔV) V
1
(0,800 ± 0,005)
(0,140 ± 0,005)
(0,470 ± 0,005)
(6,60 ± 0,05)
2
(0,550 ± 0,005)
(0,100 ± 0,005)
(0,300 ± 0,005)
(3,20 ± 0,05)
3
(0,280 ± 0,005)
(0,060 ± 0,005)
(0,160 ± 0,005)
(1,20 ± 0,05)

Adapun hasil yang diperoleh untuk percobaan ketiga ini adalah (10,8 ± 0,2)Ω dengan KR dan DK berturut-turut sebesar 1,40% dan 98,60%, hasil untuk percobaan kedua yaitu (8,02 ± 0,20)Ω dengan KR sebesar 2,50% dan DK yaitu 97,50%. Dan untuk percobaan ketiga adalah (5,45 ± 0,32)Ω dengan KR sebesar 5,87% dan Dk sebesar 94,13%.

Hasil kuat arus yang terjadi pada tiga kali pengambilan data yaitu Itotal yang diperoleh sebesar (0,610 ± 0,005) A dengan Imasuk sebesar (0,800 ± 0,005) A untuk data pertama, untuk data kedua Itotal yang didapat sebesar (0,400 ± 0,005) A dengan Imasuk sebesar (0,550 ± 0,005) A sedangkann untuk data ketiga diperoleh hasil sebesar (0,220 ± 0,005) A untuk Itotal dan untuk Imasuk sebesar (0,280 ± 0,005) A. Seharusnya, Itotal yang diperoleh memiliki nilai yang sama dengan Imasuk, namun pada pengambilan data ini hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan teoritisnya hal itu dikarenakan kurang teliti dalam membaca alat ukur yang digunakan.

                Hasil data yang diperoleh menunjukkan bahwa perubahan tidak terjadi secara konstan atau tetap, hal itu dikarenakan pada saat menggeser-geser tahanan geser tidak digunakan jarak yang sama selama percobaan, sehingga hasil yang diperoleh tidak konstan. Pada saat percobaan juga ada kesalahana-kesalahan yang terjadi misalnya seperti ketidaktepatan dalam membaca hasil pengukuran yang ditunjukkan oleh alat ukur, dalam hal ini digunakan basicmeter.

Dari semua hasil perobaan yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa semakin besar arus maka tegangan yang dihasilkan akan semakin besar juga sehingga nyala lampu yang dihasilkan akan semakin terang.

Sehingga dapat dikatakan bahwa percobaan ini berhasil dan hasil yang diperoleh telah sesuai dengan rumusan hipotesis yang menjadi acuan dalam percobaan ini. Dapat disimpulkan pula bahwa pada  rangkaian paralel memiliki empat prinsip susunan dari tahanan listrik yaitu:

a.          Susunan paralel bertujuan untuk memperkecil hambatan suatu rangkaian.

b.          Tegangan pada ujung – ujung tiap resistor adalah sama, yaitu sama dengan tegangan pada ujung - ujung resistor pengganti paralelnya.
   
c.          Kuat arus yang melalui resistor pengganti paralel sama dengan jumlah kuat arus yang memalui tiap - tiap resistor.

 

d.          Susunan paralel berfungsi sebagai pembagi arus, yaitu kuat arus yang melalui tiap -  tiap resistor sebanding dengan kebalikan besar hambatannya.


V. KESIMPULAN

Besarnya suatu tahanan dari suatu hambatan (lampu) dengan menerapkan Hukum Ohm diperoleh dengan membandingkan tegangan dengan kuat arus yang dinyatakan dengan persamaan, dimana R= hambatan (Ω), V= tegangan (V), I= kuat arus (A). Pada rangkaian seri , arus yang mengalir sama sedangkan untuk tegangannya terbagi-bagi untuk masing – masing hambatan dan besarnya hambatan pada rangkaian seri ini dapat diukur dengan menggunakan persamaan. Adapun pada rangkaian paralel, rangkaian disusun sejajar sehingga tegangan sama besar sedangkan arus yang mengalir terbagi – bagi
 Hukum Ohm, Rangkaian Seri dan Paralel
 (LM-2)



Fitri Andriyani Puspitasari, Nurul Hasanah , Irma Sari , Anastasya Eka Purnamasari, Muhammad Sirat, Hayatul Mu’awwanah
Jurusan
Pendidikan Matematika dan Ipa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat  Jl. Brigjen H. Hasan Basri Komp. Unlam Kayutangi, Banjarmasin 70123
e-mail: info@unlam.ac.id



Abstrak Percobaan ini bertujuan untuk mengukur besarnya tahanan dari suatu hambatan dengan menerapkan hukum Ohm, memahami perbedaan rangkaian seri dan paralel, dan mengukur besarnya nilai sutu tahanan yang dirangkain tersebut. Percobaan ini dilakukan melalui tiga kegiatan yang masing-masing dilakukan sebanyak tiga kali percobaan. Adapaun hasil yang diperoleh adalah {(12,6 ± 0,3)Ω; (8,46 ± 0,35)Ω; (8,00 ± 0,40)Ω; (24,7 ± 0,5)Ω; (18,9 ± 0,5)Ω; (17,0 ± 0,6)Ω; (10,8 ± 0,2)Ω; (8,02 ± 0,20)Ω; (5,45 ± 0,32)Ω} dengan KR {2,38%; 4,14%; 5%;2,19%; 2,64%;3,47%; 1,40%; 2,50%; 5,87%} dan DK sebesar {97,62%; 95,86%; 95%; 97,81%;97,36%;96,53%; 98,60%; 97,50%; 94,13%}. Dari semua hasil percobaan yang telah dilakukan dapat dikatakan hasil yang diperoleh telah sesuai dengan rumusan hipotesis yang menjadi acuan dalam percobaan ini.

Kata KunciArus Listrik, Hukum Ohm, Kuat Arus Listrik, Rangkaian Paralel, Rangkaian Seri, dan Tegangan.

I.     PENDAHULUAN

R
ESISTANSI adalah hambatan terhadap aliran asrus listrik. Satuan resistansi adalah ohm. Hukum ohm merupakan besar arus listrik yang mengaliri sebuah penghantar dan berbanding lurus dengan beda potensial yang diterapkan padanya. Hukum ohm yang bekerja pada suatu penghantar jika nilai resistansinya tidak bergantung pada polaritas yang dikenakan pada benda. Hukum mulanya terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah definisi hambatan yaitu tegangan merupakan hasil dari arus listrik yang dikalikan dengan hambatan. Bagian kedua adaah pernyataan bahwa hambatan suatu kosntanta yang tidak tergantung pada tegangan maupun kuat arus. Hukum ohm dalam kehidupan sehari-hari sudah sering dijumpai pada penggunaan alat-alat kelistrikan yang memakai rangkaian listrik. Rangkaian listrik ada dua yaitu rangkaian seri dan paralel. Untuk lebih memahami penjelasan diatas, maka dilakukan percobaan hukum ohm pada rangkaian seri dan paralel.

Dari latar belakang diatas dapat diambil beberapa rumusan masalah yaitu sebagai berikut: “Bagaimana hubungan antara arus dan tegangan terhadap nyala lampu ?”, “Bagaimana arus dan tegangan yang terjadi pada rangkaian seri dan paralel ?”, “Bagaimanakah nyala lampu yang tejadi pada rangakain seri dan paralel ?”.

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah mengukur besarnya tahanan dari suatu hambatan (elemen setrika atau lampu) dengan menerapkan hukum Ohm, memahami perbedaan rangkaian seri dan paralel, dan mengukur besarnya nilai sutu tahanan yang dirangkain seri dan paralel.

II.    KAJIAN TEORI

A.              Hukum Ohm

Dalam arus listrik terdapat hambatan listrik yang menentukan besar kecilnya arus listrik. Semakin besar hambatan listrik, semakin kecil kuat arusnya, dan sebaliknya. Arus listrik terdiri dari muatan-muatan yang bergerak dari sutau daerah ke daerah lainnya. Bila gerak ini berlangsung di dalam sebuah lintasan konduksi yang membentuk sebuah simpal tertutup, maka lintasa itu dinamakan rangkaian listrik. Kuat arus listrik didefinisikan sebagai jumlah muatan yang melalui sebuah penghantar dalam satu satuan waktu. Secara sistematis dituliskan sebagai :

                                                                                                                                                                                                                        (1)

Kuat arus listrik juga diartikan sebagai banyaknya muatan yang berpindah dalam penghantar setiap detiknya. Sedangkan tegangan adalah beda potensial antara ujung-ujung resistor. Dan hambatan adalah nilai perbandingan antara tegangan dan kuat arus listrik.  Hukum Ohm dicetuskan oleh seorang ahli fisika berkebangsaan Jerman yaitu George Simon Ohm (1787-1854) setelah melakukan eksperimen pada tahu 1927 untuk mengetahui hubungan kuat arus dan tegangan dalam suatu rangkaian listrik yang berbunyi: “Tegangan (V) dalam suatu komponen listrik sebanding dengan kuat arus listrik yang melalui komponen tersebut, asalkan hambatan (R) konstan”.

                                                                                                                                                                                                                                                                  (2)

Melalaui eksperimennya menyimpulkan bahwa I pada kawat sebanding dengan beda potensial V yang diberikan ke ujung-ujung kawat penghantar tersebut . Besarnya arus yang mengalir pada kawat penghantar tidak hanya bergantung pada tegangan, tetapi juga pada hambatan yang dimiliki kawat terhadap aliran elektron. Kuat arus listrik berbanding terbalik dengan hambatan seperti persamaan dibawah ini :

                                                                                                                                                                                                                                                           (3)

Aliran elektron pada kawat penghantar diperlambat karena adanya interaksi dengan atom-atom kawat. Makin besar hambatan ini, makin kecil arus untuk suatu tegangan V. Dengan demikian, arus I yang mengalir berbanding lurus dengan beda potensial antara ujung-ujung kawat penghantar dan berbanding terbalik dengan hambatannya[1].

Persamaan hukum Ohm telah disajikan pada penjelasan sebelumnya yaitu pada persamaan (2). Dari persamaan tersebut dapat disimpulkan, bahwa:

1)       Hambatan penghantar sama, tidak peduli berapapun tegangan yang digunakan untuk mengukur arus.
2)       Kuat arus dalam suatu rangkaian adalah sebanding dengan tegangan yang diberikan dan berbanding terbalik dengan hambatannya.

Kesimpulan di atas berlaku untuk penghantar logam yang bertemperatur konstan selama penegukurannya.

                                                                                                                                                                                                                                         (4)[2].

Rangkaian listrik yang kita jumpai sehari – hari biasanya tidak hanya terdiri dari satu sumber tegangan dan satu hambatan saja, tetapi meliputi beberapa sumber, hambatan atau unsur – unsur lain yang dihubungkan satu dengan yang lain. Istilah yang umum dipakai untuk rangkaian semacam ini adalah jaringan.

Bila arus listrik mengalir dalam suatu rangkaian yang hanya terdiri dari satu sumber tegangan dan satu hambatan, maka berlaku hukum Ohm seperti pada persamaan (2).


Gambar 1. Rangkaian Hukum Ohm

Bila arus yang masuk ke dalam rangkaian diketahui dan tegangan yang melewati hambatan dapat diukur, maka nilai hambatan bisa dihitung dengan persamaan hukum Ohm diatas (persamaan 2)[3].

Sebuah resistor adalah sebuah konduktor dengan hambatan tertentu. Resistor memiliki hambatan yang sama tanpa memperdulikan besar dan arah (polaritas) dan beda potensial yang diaplikasikan. Akan tetapi, alat konduksi lain mungkin memiliki hambatan yang berubah terhadap beda potensial yang diaplikasikan. Gambar 2, menunjukkan cara membedakan alat-alat tersebut. Beda potensial V diaplikasikan melalui sesuatu alat yang diuji dan arus I yang dihasilkan melalui alat yang diukur sebagai V yang bervariasi baik didalam besar maupun polaritas. Arah V berubah-ubah menjadi positif apabila terminal kiri dari alat tersebut berada pada potensial yang lebih tinggi daripada terminal kanan. Arah arus yang dihasilkan (dari kiri ke kanan) ditetapkan dengan tanda positif secara berubah-ubah. Polaritas balik dari V (dengan terminal kanan berada pada potensial yang lebih besar) kemudian menjadi , arus ini menyebabkan penetapan tanda minus.

Gambar 2 Sebuah alat dengan terminal beda potensial V yang dipantulkan menembus arus I.

Karena tidak ada alat yang dapat menentukan dan pada persamaan (7) secara langsung, maka kita tempuh cara berikut :

                                                                                                                                                                                                                                        (5)

Kita pilih hasil kali diferensial dari kedua arus dengan unsur panjang konduktifitas menurut rapat arus , dan diintegrasikan melalui konduktor mulai dari titik a ke b karena dan itu sejajar maka :

                                                                                                                                                            (6)

Dan karena arus I bagi semua penampang lintang sama besar, maka :

                                                                                                                                                                                                 (7)

Integral disebelah kanan disebut resistansi (tahanan listrik) = R listrik antara titik a dan b didalam hal ini.

                                                                                                                                                                                                                                               (8)

Sehingga persamaan (8) dapat ditulis sebagai :


                                                                                                                                                                                                                                                                (9)

Persamaan (9) inilah yang dikenal sebagai hukum Ohm. Kuat arus yang timbul karena beda potensial tergantung pada potensial tersebut.

Description: C:\Users\ACER\Documents\Jurnal Ilmiah praktikum\LM-2\IMG_20150502_182954.jpg

Gambar 3 Rangkain hukum Ohm

                                                                                                                                                                                                                      (10)[4].


Untuk persamaan hukum Ohm yang telah disebutkan sebelumnya, dapat dilukiskan dengan grafik persamaan berikut ini :

Dalam persamaan (2) harga R tidak bergantung pada i. Sehingga grafik I-V bersifat linear. Bahan dengan sifat seperti ini dikatakan bersifat ohmik. Pada harga arus yang besar temperatur bahan menjadi tinggi, dan bahan menjadi bergantung pada arus. Grafik I -V tidak linear lagi dan bahan tak lagi bersifat Ohmik. Hukum Ohm tidak berlaku disini, sebelum menggunakan hukum Ohm, telitilah lebih dulu apakah bahan bersifat Ohmik. Bila tidak, hukum Ohm tidak berlaku[5].

Untuk mengahasilakan arus listrik pada rangkaian, dibutuhkan beda potensial. Satu cara untuk menghasilkan beda potensial ialah dengan baterai. George Simon Ohm menentukan dengan eksperimen bahwa arus pada kawat logam sebanding dengan beda potensial V yang diberikan keujung – ujungnya:

                                                                                                                                                                                                                                                      (11)

Sebagai contoh, jika kita menghubungkan kawat ke baterai 6 V, aliran arus akan dua kali lipat dibandingkan jika dihubungkan ke baterai 3 V. Besarnya aliran arus pada kawat tidak hanya tergantung pada tegangan, tetapi juga pada hambatan yang diberikan kawat terhadap aliran elektron. Makin tinggi hambatan maka makin kecil arus I untuk suatu tegangan V. Kita kemudian mendefinisikan hambatan sehingga arus berbanding terbalik dengan hambatan. Ketika kita menggabungkan hal ini dan kesebandingan di atas kita dapatkan persaamaan (3). Satuan untuk hambatan disebut Ohm dan simbolnya Ω (huruf besar Yunani untuk Omega) karena 1, 0 Ω ekivalen dengan 1, 0 [6].

B.              Rangkaian Seri

Rangkaian seri adalah rangkaian listrik yang komponen penyusunnya dipasang sejajar. Rangkaian hukum Ohm yang sangat sederhana , hanya terdiri dari satu hambatan, tetapi bila di dalam rangkaian terdiri atas lebih dari satu hambatan yang disusun antara titik a dan b membentuk hanya satu titik lintasan antara kedua titik maka rangkaian hambatan disebut rangkaian seri. Bila hanya ada satu titik lintasan, maka arus yang mengalir sama besarnya untuk masing – masing hambatan didalam rangkaian tersebut.

Gambar 4. Rangkaian seri dari dua hambatan[3].

Pada gambar 5, ditunjukkan bahwa tiga buah resisitor yang disusun seri dan dihubungkan dengan sebuah sumber tegangan V. Perhatikan bahwa arus listrik yang mengalir melalui ketiga hambatan adalah sama, tetapi tegangannya berbeda, bergantung besar hambatannya. Jadi, pada resisitor yang disusun seri seperti gambar 5 berlaku :
Description: C:\Users\ACER\Documents\Jurnal Ilmiah praktikum\LM-2\TyM1V5u3NaETBAmFuOeaJ228tQqTZDpV9P6o1_JyexXoM0bHDQ5S63fmueQQdJ--mzB7Y-iKcsc2JbWHtmfNEp7gDhzDjoxr2kYA9bE2znXB-Yu8FZz0=w391-h254-nc.jpeg

Gambar 5 Tiga resistor yang dirangkai seri

                                                                                                                                                               (12)

                                                                                                                                                                (13)

Jika kita ingin mengganti ketiga resisitor tersebut dengan sebuah resisitor tunggal, Rs yang disebut resisitor pengganti seri, maka berlaku :

                                                                                                                                                                      (14)

Jadi, resistor pengganti dari susunan beberapa resisitor sama dengan jumlah dari seluruh resistor-resistor tersebut secara umum, untuk buah resistor yang dihubungkan secara seri berlaku :

                                                                                 (15)[7]

Ketika arus hanya dapat mengalir mengikuti satu jalur saat arus tersebut mengalir melalui dua atau lebih resistor yang dihubungkan satu sama lain, dikatakan resistor – resistor tersebut terangkai secara seri. Dengan kata lain, jika satu dan hanya satu terminal resistor dihubungkan secara langsung ke satu dan hanya satu terminal resistor yang lain. Keduanya terangkai seri dan arus yang sama mengalir melewati keduanya. Sebuah simpal adalah satu titik yang terdiri dari tiga atau lebih cabang atau kawat yang membawa arus bertemu. Dalam rangkaian seri, tidak ada simpal antara elemen – elemen rangkaian (seperti kapasitor, resistor, dan baterai). Kasus umum dapat dilihat pada gambar 6 dibawah ini. Untuk beberapa resistor yang terangkai secara seri, hambatan ekivalennya Rek ditentukan oleh:

                                                                                                                          (16)

Dimana, , ,... adalah hambatan dari beberapa resistor. Dalam rangkaian seri, arus yang melewati setiap hambatan yang lainnya. Penurunan potensial masing – masing. Hambatan ekivalen dalam rangkaian seri selalu lebih besaar daripada hambatan – hambatan individu terbesar.


Gambar 6. Resistor dalam rangkaian seri[8].

Kelemahan susunan seri, jika salah satu filamen lampu putus, maka rangkaiaan listrik berubah menjadi terbuka. Sebagai hasilnya lampu R2 yang masih baik ikut padam. Jika salah satu filamen lampu terputus seluruh lampu akan padam dan harus diperiksa satu demi satu lampu tersebut akan menemukan lampu yang rusak, kemudian menggantinya dengan lampu biru. Pekerjaan memeriksa lampu ini memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu, tidaklah merangkai komponen –komponen listrik secara seri.

Dalam banyak rangkaian, sakering sengaja dipasang seri dengan rangkaian komponen – komponen lain untuk tujuan pengamanan, konduktor pada sakering  didesain untuk melebur dan membuka rangkaian pada arus maksimum tertentu yang bergantung pada batas arus yang melalui komponen yang dirangkai seri dengan sakering. Jika sakering tidak digunakan , arus yang melebihi batas dapat merusak komponen – komponen pada rangkaian, mengakibatkan pemanasan lebih pada kawat atau kabel penghantar yang dapat memungkinkan terjadinya kebakaran. Dalam instalasi listrik rumah, pemutus daya (circuit breaker) digunakan sebagai pengganti sakering. Ketika kuat arus dalam rangkaian melebihi nilai tertentu, pemutus daya akan bertindak sebagai sakelar dan memutus rangkaian secara otomatis[9].

C.              Rangkaian Paralel

Rangkaian paralel adalah rangkaian listrik yang komponen penyusunnya dipasang berderet. Hambatan-hambatan akan dikatakan paralel bila masing – masing hambatan mempunyai lintasan alternatif antara titik a dan b. dalam rangkaian paralel beda tegangan pada masing – masing hambtaan sama besarnya.

Gambar 7. Rangkaian paralel dari dua hambatan[3].

Pada gambar 8 ditunjukkan bahwa tiga buah resisitor yang disusun paralel dan dihubungkan dengan sumber tegangan V.

Ketika resistor-resitor disusun paralel, maka tegang an pada masing-masing resisitor sama besar yaitu :

Description: C:\Users\ACER\Documents\Jurnal Ilmiah praktikum\LM-2\TyM1V5u3NaETBAmFuOeaJ228tQqTZDpV9P6o1_JyexXoM0bHDQ5S63fmueQQdJ--mzB7Y-iKcsc2JbWHtmfNEp7gDhzDjoxr2kYA9bE2znXB-Yu8FZz0=w391-h254-nc.jpeg

Gambar 8 Tiga resistor yang dirangkain paralel

                                                                                                                                                              (17)

Sedangkan arus listrik dari baterai dibagi ke tiga resistor, sehingga berlaku :

                                                                                                                                                                                 (18)

Jika kita ingin mengganti ketiga resistor yang dihubungkan secara paralel berlaku :

                                                                                                                                             (19)

Secara umum, untuk buah resistor yang dihubungkan secara paralel berlaku :

                                                                         (20)

                                                                                                                                                                                          (21)[7].


Beberapa resistor dihubungkan secara paralel antara dua simpul jika satu ujung dari masing – masing resistor dihubungkan ke salah satu simpal dan ujung yang lain. Kasus umum dapat dilihat pada gambar 7. Di bawah ini, dimana titik a dan b adalah simpal. Hambatan ekivalennya Rek ditentukan oleh persamaan (19).

Hambatan ekivalen dalam rangkaian paralel selalu lebih kecil dari hambatan – hambatan individu terkecil. Perubahan hambatan dalam rangkaian paralel mengulang Rek rangkaian tersebut. Penurunan potensial V pada satu resistor dalam rangkaian paralel adalah sama dengan penurunan potensial dari setiap resistor lainnya. Arus yang melewati resistor ke adalah:

                                                                                                                                                                                                                                                    (22)

Dan jumlah arus yang memasuki rangkaian tersebut sama dengan jumlah arus pada setiap cabang.


Gambar 9. Resistor dalam rangkaian paralel[8].

Rangkaian paralel juga disebut rangkaian sejajar. Pada rangkaian paralel, resistor terbagi menjadi bermacam-macam cabang yang terpisah tampak pada gambar 9. Pemasangan alat-alat listrik pada rumah-rumah, gedung-gedung dipasang secara paralel. Jika memutuskan hubungan dengan satu alat (misalnya R, pada gambar 8). Maka arus yang mengalir pada komponen lain yaitu R2 dan R3 tidak terputus. Tetapi pada rangkaian seri, jika salah satu komponen terputus maka arus komponen lain juga akan berhenti.

Pada rangkaian paralel, arus total yang berasal dari sumber (baterai) terbagi menjadi tiga cabang. Perhatikan dengan seksama gambar berikut :

Arus yang keluar dimisalkan, , danberturut-turut sebagai arus yang melalui resistor , , . Oleh karena muatan kekal, arus yang masuk ke dalam titik cabang harus sama dengan arus yang keluar dari titik cabang, sehingga dapat diperoleh persamaan (18). Ketika rangkaian paralel tersebut terhubung dengan sumber tegangan V, masing-masing mengalami tegangan yang sama yaitu V. Berarti, tegangan penuh baterai diberikan ke setiap resisitor, sehingga :

                                                                                                           (23)

Hambatan pengganti susunan paralel (Rp) akan menarik arus I dari sumber yang besarnya sama dengan arus total ketiga hambatan paralel tersebut. Arus yang mengalir pada hambatan pengganti harus memenuhi :

                                                                                                                                                                                                                                          (24)

Kemudian substansi bagi setiap arus dengan V, maka didapatkan nilai hambatan pengganti (Rp) rangkain paralel :

                                                                                                                      (25)[1].


Resistor paralel ditambahkan secara terbalik karena arus dalam setiap resistor sebanding dengan tegangan bersama yang melewati resistor-resistor itu dan berbanding terbalik dengan setiap hambatan. Untuk khusus dua resistor paralel, maka berlaku :

                                              (26)

Karena maka dapat :

                                                                                                                                                                                                                                                     (27)

Ini memperlihatkan bahwa arus yang diangkut oleh resistor paralel berbanding terbalik dengan hambatannya, lebih banyak arus yang melalui lintasan yang hambatannya paling kecil[10].

III.  METODE PERCOBAAN

Pada percobaan Hukum Ohm, Rangkaian seri dan Paralel dibutuhkan peralatan seperti gambar 3.1 yaitu bola lampu dan tempat dudukan lamupu 2 buah, power supply 1 buah, basicmeter 4 buah, tahanan geser 1 buah, dan kabel penghubung 15 buah.


Gambar 10 Power supply


Gambar 11 Kabel penghubung


Gambar 12 Tahanan geser


Gambar 13 Lampu dan dudukan lampu


Gambar 14 Basicmeter

Adapun rumusan hipotesis yang digunakan sebagai acuan dalam percobaan ini ada tiga yaitu: “Jika arus dan tegangan yang dihasilkan besar maka nyala lampu yang dihasilkan semakin terang”, “Hambatan pada rangkaian seri lebih besar daripada hambatan pada rangkaian paralel”, “Nyala lampu yang terjadi pada rangkaian paralel lebih terang daripada pada rangkaian seri”.

Dalam percobaan ini dilakukan melalui tiga kegiatan yang berbeda yaitu pertama melalukan percobaan hukum Ohm yang dilakukan melalui tiga kali pengambilan data. Dalam kegiatan pertama ada tiga variabel yang digunakan yaitu variabel manipulasi, variabel respon, dan variabel kontrol. Variabel manipulasinya yaitu kuat arus. Menggeser-geser tahanan geser untuk memperoleh arus yang berbeda-beda disetiap percobaannya. Variabel respon dalam percobaan pertama ini yaitu kuat arus dan tegangan. Mengamati serta mencatat besar tegangan dan kuat arus listrik yang dihasilkan dalam percobaan Variabel kontrolnya adalah Vinput , jenis rangkaian, kabel penghubung dan spesifikasi lampu. Selama percobaan tetap menggunakan bola lampu dengan jenis yang sama atau spesifikasi lampu yang sama yaitu sebesar 3,8 V, menggunakan jumlah kabel penghubung yang sama yaitu sebanyak 15 buah, sedangkan untuk Vinput yang digunakan sebesar 9 V dan menggunakan jenis rangkaian yang sama selama percobaan yaitu rangkaian hukum Ohm.

Untuk percobaan kedua yaitu melakukan percobaan dengan menggunakan rangkaian seri. Adapun variabel-variabel yang digunakan pada kegiatan kedua yaitu varibel manipulasi, variabel respon, dan variabel kontrol. Variabel manipulasi yaitu kuat arus. Menggeser-geser tahanan geser untuk memperoleh arus yang berbeda-beda disetiap percobaannya. Variabel responnya yaitu kuat arus, tegangan listrik yang terbagi dan tegangan total. Mengamati dan mencatat besar arus, tegangan total, dan tegangan yang terbagi-bagi yang dihasilkan selama percobaan. Variabel kontrolnya adalah Vinput , jenis rangkaian, kabel penghubung dan spesifikasi lampu. Selama percobaan tetap menggunakan bola lampu dengan jenis yang sama atau spesifikasi lampu yang sama yaitu sebesar 3,8 V, menggunakan jumlah kabel penghubung yang sama yaitu sebanyak 15 buah, sedangkan untuk Vinput yang digunakan sebesar 9 V dan menggunakan jenis rangkaian yang sama selama percobaan yaitu rangkaian seri.

Sedangkan, pada percobaan ketiga yaitu percobaan dengan menggunakan rangkaian paralel. Sama seperti kegiatan lainnya, pada kegiatan ini juga menggunakan tiga jenis variabel. Variabel manipulasinya yaitu kuat arus. Menggeser-geser tahanan geser untuk memperoleh arus yang berbeda-beda disetiap percobaannya. Variabel responnya adalah kuat arus listrik, kuat arus yang terbagi dan tegangan listrik. Mengamati dan mencatat besar kuat arus listrik, kuat arus listrik yang terbagi-bagi, dan tegangan yang diperoleh selama percobaan. Variabel kontrolnya adalah Vinput , jenis rangkaian, kabel penghubung dan spesifikasi lampu. Selama percobaan tetap menggunakan bola lampu dengan jenis yang sama atau spesifikasi lampu yang sama yaitu sebesar 3,8 V, menggunakan jumlah kabel penghubung yang sama yaitu sebanyak 15 buah, sedangkan untuk Vinput yang digunakan sebesar 9 V dan menggunakan jenis rangkaian yang sama selama percobaan yaitu rangkaian paralel.

Untuk semua kegiatan dimulai dengan merangkai alat seperti pada gambar 15, 16, dan 17. Untuk kegiatan pertama, menghubungkan arus positif pada power supply ke voltmeter, kemudian menghubungkan voltmeter ke lampu, kemudian arus pada lampu dialirkan ke tahanan geser yang kemudian dari tahanan geser dialrkan ke arus negatif yang terdapat pada power supply. Setelah selesai merangkai alat, perhatikan kembali rangkaian, pada voltmeter terdapat kabel penghubung yang tersambung ke lampu maka dibuat simpangan dengan menggunakan kabel penghubung yang kemudian di sambungkan ke voltmeter dan dari voltmeter disambungkan pada kabel penghubung yang terdapat pada lampu dan menuju ke tahanan geser (lihat gambar 15), mencatat nilai tegangan dan arus yang diperoleh, kemudian menggeser besar tahanan geser sehingga diperoleh nilai tegangan dan arus yang berbeda-beda. Untuk kegiatan dua, menghubungkan arus positif pada power supply dialirkan ke amperemeter yang kemudian dialirkan ke lampu 1 dan dialirakan lagi ke lampu 2 dan diteruskan ke tahanan geser yang kemudian dilanjutkan ke arus negatif pada power supply. Dari lampu 1 dialirkan ke voltmeter 1 yang kemudian dialirakan ke lampu 2 kemudian ke voltmeter 2. Dari amperemeter disambungkan ke voltmeter utama yang kemudian langsung dihubungkan dengan lampu, voltmeter 2 yang mengarah ke tahana geser (lihat gambar 16), mencatat besar tegangan dan arus yang dihasilkan, kemudian menggeser besar tahanan geser sehingga diperoleh nilai tegangan dan arus yang berbeda-beda. Untuk kegiatan ketiga, arus positif pada power supply dialirkan ke amperemeter yang kemudian dialirkan ke lampu 1 dan lampu 2 yang kemudian dari masing-masing lamupu dialirkan pada masing-masing amperemeter yang kemudian arus bertemu dan dialirkan ke tahanan geser dan berlanjut menuju arus negatif pada power supply, dari amperemeter arus juga dialirkan ke voltmeter yang kemudian arus bertemu dengan arus yang berasal dari amperemeter 1 dan 2 yang menuuju pada tahanan geser dan arus negatif power supply (lihat gambar 17) mencatat besar tegangan dan arus yang dihasilkan, kemudian menggeser besar tahanan geser sehingga diperoleh nilai tegangan dan arus yang berbeda-beda. 


Gambar 15 Hukum Ohm


Gambar 16 Rangkaian Seri


Gambar 17 Rangkaian Paralel

Sedangkan teknik analisis yang digunakan dalam percobaan ini adalah :

IV.  ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN


1.          Percobaan pada rangkaian Hukum Ohm

Pada percobaaan Hukum Ohm, Rangkaian Seri dan Paralel dilakukan tiga kegiatan yang berbeda-beda. Untuk kegiatan pertama yaitu menggunakan rangkaian hukum Ohm, dalam kegiatan ini dilakukan tiga kali percobaan. Pada percobaan pertama diperoleh hasil tegangan sebesar (4,80 ± 0,05) V dan arus sebesar (0,380 ± 0,005) A, pada percobaan kedua tegangan yang diperoleh sebesar (2,20 ± 0,05) V sedangkan arusnya yaitu (0,260 ± 0,005) A, dan untuk percobaan ketiga diperoleh tegangan dan arus sebesar (1,60 ± 0,05) V dan (0,200 ± 0,005) A secara berturut-turut. Berikut ini merupakan tabel data hasil percobaan pada kegiatan pertama :

Tebel 1 Rangkaian hukum Ohm

No
(V ± ΔV) V
(I ±ΔI) A
1
(4,80 ± 0,05)
(0,380 ± 0,005)
2
(2,20 ± 0,05)
(0,260 ± 0,005)
3
(1,60 ± 0,05)
(0,200 ± 0,005)

Dari hasil perhitungan Percobaan Hukum Ohm dan Rangkaian Seri Paralel dengan tiga kali kegiatan yaitu kegiatan pertama rangkaian satu hambatan atau hukum Ohm, kegiatan kedua rangkaian seri dan kegiatan ketiga rangkaian paralel, persamaan yang digunakan dalam percobaan Hukum Ohm dan Rangkaian Seri dan Paralel adalah dengan menggunakan rumus persamaan:


Adapun hasil yang diperoleh pada kegiatan pertama ini adalah (12,6 ± 0,3)Ω dengan KR sebesar 2,38% dan DK sebesar 97,62% untuk percobaan pertama, untuk percobaan kedua, hasil yang diperoleh adalah (8,46 ± 0,35)Ω dengan KR dan DK berturut-turut sebesar 4,14% dan 95,86%, dan untuk percobaan ketiga diperoleh hasil sebesar (8,00 ± 0,40)Ω dengan KR sebesar 5% dan DK sebesar 95%.

Berikut ini ditampilkan grafik hubungan antara tegangan (V) dan kuat arus listrik (I) pada hukum Ohm:

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa semakin besar kuat arus maka tegangan yang dihasilkan juga semakin besar yang berarti tegangan berbanding lurus dengan kuat arus listrik.


2.          Percobaan pada rangkaian seri

Untuk kegiatan kedua digunakan rangkaian seri, pada kegiatan ini dilakukan percobaan sebanyak tiga kali, adapun tabel data yang dihasilkan yaitu :

Tabel 2 Rangkaian seri

No
(V ± ΔV) V
(V1 ± ΔV) V
(V2 ± ΔV) V
(I ±ΔI) A
1
(7,80± 0,05)
(3,90 ± 0,05)
(4,00 ± 0,05)
(0,320 ± 0,005)
2
(5,40 ± 0,05)
(2,70 ± 0,05)
(2,80 ± 0,05)
(0,290 ± 0,005)
3
(3,90 ± 0,05)
(1,90 ± 0,05)
(2,00 ± 0,05)
(0,230 ± 0,005)

Adapun hasil yang diperoleh untuk percobaan kedua ini adalah (24,7 ± 0,5)Ω dengan KR dan DK sebesar 2,19% dan 97,81% secara berturut-turut untuk percobaan pertama, percobaan kedua yaitu sebesar (18,9 ± 0,5)Ω dengan KR yaitu 2,64% dan DK sebesar 97,36%, sedangkan untuk percobaan ketiga adalah (17,0 ± 0,6)Ω dengan KR yaitu 3,47% dan DK yaitu 96,53%.

Hasil tegangan yang terjadi yaitu pada pengambilan data pertama hasilnya sebesar (7,90 ± 0,05) V untuk Vtotal-nya sedangkan untuk Vmasuk  sebesar (7,80± 0,05) V, data kedua Vtotal-nya sebesar (5,50 ± 0,05) V sedangkan untuk Vmasuk  yang diperoleh sebesar (5,40 ± 0,05) V dan untuk data ketiga diperoleh hasil Vtotal-nya sebesar (3,90 ± 0,05) V yang sama dengan Vmasuk  yaitu sebesar (3,90 ± 0,05) V. Seharusnya, nilai Vtotal yang diperoleh sama dengan Vmasuk, sedangkan pada pengambilan data yang dilakukan sebanyak tiga kali ini hanya pada data yang ketiga yang memiliki tegangan total atau Vtotal yang memiliki nilai yang sama dengan tegangan yang masuk atau Vmasuk, hal itu dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya kurang teliti dalam membaca alat ukur.

Dapat disimpulkan bahwa pada  rangkaian paralel memiliki empat prinsip susunan dari tahanan listrik yaitu:

a.        Susunan seri bertujuan untuk memperbesar hambatan suatu rangkaian.

b.        Kuat arus yang melalui tiap – tiap resistor penyusun adalah sama – sama, yaitu sama dengan kuat arus yang melalui resistor pengganti serinya.


c.         Tegangan pada ujung – ujung resistor pengganti seri sama dengan jumlah tegangan pada ujung – ujung tiap resistor individu/ penyusun.


d.        Susunan seri berfungsi sebagai pembagi tegangan, dimana tegangan pada ujung – ujung tiap resistor sebanding dengan besar hambatannya.

3.          Percobaan pada rangkaian paralel

Untuk kegiatan ketiga menggunakan rangkaian paralel, pada kegiatan ini juga dilakukan percobaan sebanyak tiga kali, adapun  data yang diperoleh yaitu :

Tabel 3 rangkaian paralel

No
(I ±ΔI) A
(I1 ±ΔI) A
(I2 ±ΔI) A
(V ± ΔV) V
1
(0,800 ± 0,005)
(0,140 ± 0,005)
(0,470 ± 0,005)
(6,60 ± 0,05)
2
(0,550 ± 0,005)
(0,100 ± 0,005)
(0,300 ± 0,005)
(3,20 ± 0,05)
3
(0,280 ± 0,005)
(0,060 ± 0,005)
(0,160 ± 0,005)
(1,20 ± 0,05)

Adapun hasil yang diperoleh untuk percobaan ketiga ini adalah (10,8 ± 0,2)Ω dengan KR dan DK berturut-turut sebesar 1,40% dan 98,60%, hasil untuk percobaan kedua yaitu (8,02 ± 0,20)Ω dengan KR sebesar 2,50% dan DK yaitu 97,50%. Dan untuk percobaan ketiga adalah (5,45 ± 0,32)Ω dengan KR sebesar 5,87% dan Dk sebesar 94,13%.

Hasil kuat arus yang terjadi pada tiga kali pengambilan data yaitu Itotal yang diperoleh sebesar (0,610 ± 0,005) A dengan Imasuk sebesar (0,800 ± 0,005) A untuk data pertama, untuk data kedua Itotal yang didapat sebesar (0,400 ± 0,005) A dengan Imasuk sebesar (0,550 ± 0,005) A sedangkann untuk data ketiga diperoleh hasil sebesar (0,220 ± 0,005) A untuk Itotal dan untuk Imasuk sebesar (0,280 ± 0,005) A. Seharusnya, Itotal yang diperoleh memiliki nilai yang sama dengan Imasuk, namun pada pengambilan data ini hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan teoritisnya hal itu dikarenakan kurang teliti dalam membaca alat ukur yang digunakan.

                Hasil data yang diperoleh menunjukkan bahwa perubahan tidak terjadi secara konstan atau tetap, hal itu dikarenakan pada saat menggeser-geser tahanan geser tidak digunakan jarak yang sama selama percobaan, sehingga hasil yang diperoleh tidak konstan. Pada saat percobaan juga ada kesalahana-kesalahan yang terjadi misalnya seperti ketidaktepatan dalam membaca hasil pengukuran yang ditunjukkan oleh alat ukur, dalam hal ini digunakan basicmeter.

Dari semua hasil perobaan yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa semakin besar arus maka tegangan yang dihasilkan akan semakin besar juga sehingga nyala lampu yang dihasilkan akan semakin terang.

Sehingga dapat dikatakan bahwa percobaan ini berhasil dan hasil yang diperoleh telah sesuai dengan rumusan hipotesis yang menjadi acuan dalam percobaan ini. Dapat disimpulkan pula bahwa pada  rangkaian paralel memiliki empat prinsip susunan dari tahanan listrik yaitu:

a.          Susunan paralel bertujuan untuk memperkecil hambatan suatu rangkaian.

b.          Tegangan pada ujung – ujung tiap resistor adalah sama, yaitu sama dengan tegangan pada ujung - ujung resistor pengganti paralelnya.
   
c.          Kuat arus yang melalui resistor pengganti paralel sama dengan jumlah kuat arus yang memalui tiap - tiap resistor.

 

d.          Susunan paralel berfungsi sebagai pembagi arus, yaitu kuat arus yang melalui tiap -  tiap resistor sebanding dengan kebalikan besar hambatannya.


V. KESIMPULAN

Besarnya suatu tahanan dari suatu hambatan (lampu) dengan menerapkan Hukum Ohm diperoleh dengan membandingkan tegangan dengan kuat arus yang dinyatakan dengan persamaan, dimana R= hambatan (Ω), V= tegangan (V), I= kuat arus (A). Pada rangkaian seri , arus yang mengalir sama sedangkan untuk tegangannya terbagi-bagi untuk masing – masing hambatan dan besarnya hambatan pada rangkaian seri ini dapat diukur dengan menggunakan persamaan. Adapun pada rangkaian paralel, rangkaian disusun sejajar sehingga tegangan sama besar sedangkan arus yang mengalir terbagi – bagi, dan besarnya tahanan pada rangkaian ini dapat diukur dengan menggunakan persamaan . Sehingga nyala lampu pada rangkaian paralel akan lebih terang dibandingkan dengan nyala lampu yang dirangkai secara seri.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada asisten Percobaan Hukum Ohm, Rangkaian Seri dan Paralel yaitu Hayatul Mu’awwanah yang memberikan panduan saat melakukan percobaan. Serta teman-teman praktikum satu kelompok yang telah bekerjasama dalam menyelesaikan percobaan ini.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Sumarsono. 2009. Fisika untuk SMA/MA kelas X. Jakarta: Erlangga.
[2] Hidayat, Dedi. 2000. Prinsip-prinsip Fisika. Jakarta: Yudistira.
[3] Tim Dosen Fisika. 2015. Modul Praktikum Fisika Dasar II. Banjarmasin:
 UNLAM.
[4] Zainuddin. 2009. Modul Elektromagnetika. Banjarmasin: UNLAM.
[5] Sutrisno. 1979. Seri Fisika Dasar Listrik Magnet. Bandung: ITB.
[6] Giancoli, Dauglas.C. 2001. Fisika Edisi Kelima jilid 2. Jakarta: Erlangga.
[7] Supiyanto. 2006. Fisika untuk SMA/MA kelas X. Jakarta: PHTBETA.
[8] Bueche, Frederick dan Hect Eugene. 2002. Fisika Universitas Edisi
Kesepuluh. Jakarta: Erlangga.
[9] Kanginan, Marthen. 2004. Fisika untuk SMA kelas X. Cimahi: Erlangga.
[10] Sears dan Zemansky. 2003. Fisika Universitas Edisi Kesepuluh Edisi
Kedua. Jakarta: Erlangga.
 , dan besarnya tahanan pada rangkaian ini dapat diukur dengan menggunakan persamaan . Sehingga nyala lampu pada rangkaian paralel akan lebih terang dibandingkan dengan nyala lampu yang dirangkai secara seri.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada asisten Percobaan Hukum Ohm, Rangkaian Seri dan Paralel yaitu Hayatul Mu’awwanah yang memberikan panduan saat melakukan percobaan. Serta teman-teman praktikum satu kelompok yang telah bekerjasama dalam menyelesaikan percobaan ini.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Sumarsono. 2009. Fisika untuk SMA/MA kelas X. Jakarta: Erlangga.
[2] Hidayat, Dedi. 2000. Prinsip-prinsip Fisika. Jakarta: Yudistira.
[3] Tim Dosen Fisika. 2015. Modul Praktikum Fisika Dasar II. Banjarmasin:
 UNLAM.
[4] Zainuddin. 2009. Modul Elektromagnetika. Banjarmasin: UNLAM.
[5] Sutrisno. 1979. Seri Fisika Dasar Listrik Magnet. Bandung: ITB.
[6] Giancoli, Dauglas.C. 2001. Fisika Edisi Kelima jilid 2. Jakarta: Erlangga.
[7] Supiyanto. 2006. Fisika untuk SMA/MA kelas X. Jakarta: PHTBETA.
[8] Bueche, Frederick dan Hect Eugene. 2002. Fisika Universitas Edisi
Kesepuluh. Jakarta: Erlangga.
[9] Kanginan, Marthen. 2004. Fisika untuk SMA kelas X. Cimahi: Erlangga.
[10] Sears dan Zemansky. 2003. Fisika Universitas Edisi Kesepuluh Edisi
Kedua. Jakarta: Erlangga.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENDENGARAN DAN PENGLIHATAN

Makalah Penelitian Air Sungai Martapura Banjarmasin