bakat khusus

Bakat khusus
Merupakan kenyataan yang berlaku dimana- mana bahwa manusia berbeda satu sama lain dalam berbagai hal, antara lain dalam intelegensi, bakat, minat, kepribadian, keadaan jasmani, dan perilaku social. Ada kalanya seseorang lebih cekatan dalam satu bidang kegiatan dibandingkan dengan orang lain. Dalam bidang tertentu ia mungkin menunjukkan keunggulannya dibandingkan dengan orang lain.
Tidak dapat dipungkiri pula bahwa ada perbedaan antara individu satu dengan yang lain dalam tingkat kemampuan atau prestasi mereka dalam bidang music, seni, mekanik, pidato, kepemimpinan, dan olahraga serta bidang-bidang lain. Sejauh mana perbedaan-perbedaan itu dibawasejak lahir atau hasil dari latihan atau pengalaman, akan merupakan topic yang menarik dan sangat penting.
Program pendidikan hendaknya dirancang tidak hanya memperhatikan kemampuan untuk belajar tetapi juga perlu mempertimbangkan kecakapan khusus atau bakat yang dimiliki siswa.
1.       Pengertian bakat khusus
Menurut William B. Michael ( Sumardi Suryabrata, 1991: 168) bakat diartikan sebagai berikut:
“An aptitude may be defined as a person’s capacity, or nypothetical potential, for acquisition of a certain more or less well defined pattern or behavior involvedin the performance of a task respect to which the individual has llad little or no previous training.”
Michael meninjau bakat itu terutama dari segi kemampuan individu untuk melakukan sesuatu tugas, yang sedikit sekali atau tidak tergantung pada latihan sebelumnya.
Selanjutnya Bingham memberikan definisi bakatsebagai berikut:
“An aptitude… as a condition or set characteristics regarded as symptomatic of an individual’s abilityto aquire with training some (usually specified)knowledge, skill, or set of responses such as the ability to speak a language, to produce music, … etc.(Sumadi Suryabrata, 1991:168-169).
Dari definisi itu, Bingham menitikberatkan pada kondisi atau seperangkat sifat-sifat yang dianggap sebagai tanda kemampuan individu untuk menerima latihan, atau seperangkat respon seperti kemampuan berbahasa, music, dan sebagainya.
Guilford(Sumadi S.,1991:169) mengemukakan bahwa bakat itu mencakup 3 dimensi psikologis, yaitu: (1) dimensi perceptual, (2) dimensi psikomortor, dan (3) dimensi intelektual.
a.       Dimensi Perseptual
Dimensi perceptual meliputi kemampuan dalam mengadakana persepsi, dan ini meliputi factor-faktor antara lain:
1)      Kepekaan indera;
2)       Perhatian;
3)      Orientasi waktu;
4)      Luasnya daerah persepsi;
5)      Kecepatan persepsi, dan sebagainya.
b.      Dimensi  psikomotor
Dimensi psikomotor  ini mencakup enam factor, yaitu faktor:
1)      Kekuatan;
2)      Impuls;
3)      Kecepatan gerak;
4)      Ketelian, yang terdiri atas dua macam, yaitu:
a)      Factor kecepatan  statis, yang menitikberatkan pada posisi,
b)      Factor ketepatan dinamis, yang menitikberatkan pada gerakan,
5)      Koordinasi, dan
6)      Keluwesan(flexibility).
c.       Dimensi intelektual
Dimensi inilah yang umumnya mendapat sorotan luas, karena memang dimensi inilah yang mempunyasi implikasi sangat luas. Dimensi ini meliputi lima factor, yaitu:
1.       Factor ingatan, yang mencakup factor ingatan yaitu mengenai:
a.       Substansi,
b.      Relasi, dan
c.       System
2.       Factor ingatan, mengenai pengenalan terhadap:
a.       Keseluruhan informasi,
b.      Golongan(kelas),
c.       Hubungan-hubungan,
d.      Bentuk dan struktur, dan
e.      Kesimpulan.
3.       Factor evaluative, yang meliputi evaluasi mengenai:
a.       Identitas,
b.      Relasi-relasi,
c.       System, dan
d.      Penting tidaknya problem(kepekaan terhadap problem yang dihadapi).
4.       Factor berpikir konvergen, yang meliputi factor untuk menghasilkan:
a.       Nama-nama,
b.      Hubungan-hubungan,
c.       System-sistem,
d.      Transformasi, dan
e.      Implikasi-implikasi yang unik.
5.       Factor berpikir divergen, yang meliputi factor:
a.       Untuk menghasilkan unit-unit, seperti: word fluency, ideational fluency,
b.      Untuk pengalihan kelas-kelas secara spontan,
c.       Kelancaran dalam menghasilkan hubungan-hubungan,
d.      Untuk menghasilkan system, seperti: expressional fluency,
e.      Untuk transformasi divergen, dan
f.        Untuk menyusun bagian-bagian menjadi garis besar atau kerangka.
Dari ilustrasi di atas menunjukkan betapa rumitnya kualitas manusia yang disebut bakat.
Jadi, apakah sebetulnya yang dimaksud dengan istilah “bakat” (aptitude)? Apakah bedanya dengan “kemampuan” (ability), dan dengan “kapasitas” (capacity) serta “insting”?
Bakat dapat diartikan sebagai kemampuan bawaan yang merupakan potensi (potential ability) yang masih perlu dikembangkan atau dilatih. Kemampuan adalah daya untuk melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan. Kemampuan menunjukkan bahwa suatu tindakan dapat dilaksanakan sekarang, sedangkan “bakat” memerlukan latihan dan pendidikan agar suatu tindakan dapat dilakukan dimasa yang akan datang. Kapasitas sering digunakan sebagai sinonim untuk “kemampuan” dan biasanya diartikan sebagai kemampuan yang dapat dikembangkan sepenuhnya di masa mendatang apabila latihan dilakukan secara optimal. Dalam praktek, kapasitas seseorang jarang tercapai. Insting umumnya terdapat pada hewan, di mana dengan insting itu hewan dapat melakukan sesuatu tanpa latihan sebelumnya.
Jadi, bakat adalah kemampuan ilmiah untuk memperoleh pengetahuan atau keterampilan yang relative bersifat umum ( misalnya bakat intelektual umum) atau khusus ( bakat akademis khusus). Bakat khusus disebut juga talent. ( Cony Semiawan,dkk.,1987:2).
Pengertian bakat khusus atau talent disini dimaksudkan seseorang yang mempunyai kemampuan bawaan untuk bidang tertentu, misalnya bakat menggambar, sebagaimana dikemukakan oleh Webster (1957:1486), sebagai berikut:
“ Talent implies a native ability for a specific pursuit and connotes other that it is or can be cultivated by the one possessing it ( a talent for drawing).”
2.       Jenis-Jenis Bakat Khusus
Setiap orang mempunyai bakat-bakat tertentu, masing-masing dalam bidang dan derajat yang berbeda-beda. Usaha pengenalan bakat mula-mula terjadi pada bidang pekerjaan, tetapi kemudian juga dalam bidang pendidikan. Dalam prakteknya hampir semua ahli yang menyusun tes untuk mengungkap bakat bertolak dari dasar pikiran analisis faktor, seperti yang dikemukakan oleh Giulford. Menurut Guilford, setiap aktivitas diperlukan berfungsinya faktor-faktor tersebut.
Pemberian nama terhadap jenis-jenis bakat biasanya dilakukan berdasar atas bidang apa bakat tersebut berfungsi, seperti bakat matematika, bakat bahasa, bakat olahraga, bakat seni, bakat music, bakat, klerikal, bakat guru, bakat dokter, dan sebagainya. Dengan demikian, maka macam bakat akan sangat tergantung pada konteks kebudayaan di mana seseorang individu hidup dan dibesarkan. Mungkin penamaan itu bersangkutan dengan bidang studi, mungkin pula dalam bidang kerja.
3.       Kaitan antara Bakat dan Prestasi
Bakat memungkinkan seseorang untuk mencapai prestasi dalam bidang tertentu, akan tetapi diperlukan latihan, pengetahuan, pengalaman, dan dorongan atau motivasi agar bakat itu dapat terwujud. Misalnya seseorang mempunyai bakat menggambar, jika ia tidak pernah diberi kesempatan untuk mengembangkan, maka bakat tersebut tidak akan tampak. Jika orangtuanya menyadari bahwa ia mempunyai bakat menggambar dan mengusahakan agar ia mendapatkan pengalaman yang sebaik-baiknya untuk mengembangkan bakatnya, dan anak itu juga menunjukkan minat yang besar untuk mengikuti pendidikan menggambar, maka ia akan dapat mencapai prestasi yang unggul bahkan dapat menjadi pelukis terkenal. Sebaliknya, seorang anak yang mendapatkan pendidikan menggambar dengan baik, namun tidak memiliki bakat menggambar, maka ia tidak akan pernah mencapai prestasi unggul untuk bidang tersebut. Dalam kehidupan di sekolah erring tampak bahwa seseorang yang bakat dalam olahraga, umumnya prestasi mata pelajaran lainnya juga baik, tetapi sebaliknya dapat terjadi prestasi semua pelajarannya tidak baik. Keunggulan dalam salah satu bidang apakah bidang sastra, matematika,atau seni, merupakan hasil interaksi dari bakat yang dibawa sejak lahir dan faktor lingkungan yang menunjang, termasuk minat dan dorongan pribadi.

4.       Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Bakat Khusus
Kita hendaknya dapat membedakan antara anak berbakat yang sudah berhasil mewujudkan potensi nya dalam prestasi yang unggul, misalnya prestasi sebagai pelukis atau pernah menjadi juara sayembara mengarang atau lomba seni suara, dan mereka yang potensial berbakat tetapi karena sebab-sebab tertentu belum berhasil mewujudkan potensi mereka yang unggul.
                Adapun sebab atau faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bakat khusus atau seseorang tidak dapat mewujudkan bakat-bakatnya secara optimal, dengan kata lain prestasinya di bawah potensinya dapat terletak pada anak itu sendiri dan lingkungan.
(1)    Anak itu sendiri. Misalnya anak itu tidak atau kurang berminat untuk mengembangkan bakat-bakat yang ia miliki, atau kurang termotivasi untuk mencapai prestasi yang tinggi, atau mungkin pula mempunyai kesulitan atau masalah pribadi sehingga ia mengalami hambatan dalam perkembangan diri dan prestasi sesuai dengan bakatnya.
(2)    Lingkungan anak. Misalnya orang tuanya kurang mampu untuk menyediakan kesempatan dan sarana pendidikan yang ia butuhkan atau ekonominya cukup tinggi tetapi kurang member perhatian terhadap pendidikan anak.

5.       Perbedaan individu dalam bakat khusus
Pada dasarnya setiap orang mempunyai bakat-bakat tertentu. Dua anak-anak sama – sama mempunyai bakat melukis, tetapi yang satu lebih menonjol daripada yang lain bahkan saudara sekandung dalam satu keluarga bisa mempunyai bakat yang berbeda-beda. Anak yang satu mempunyai bakat untuk bekerja dengan angka-angka,anak yang lain dalam bidang olahraga, yang lainnya lagi berbakat menulis( mengarang).
Sekali lagi perlu ditekankan bhawa setiap anak mempunyai bakat-bakat tertentu, hanya berbeda dalam jenis dan derajatnya. Yang dimaksud dengan anak berbakat ialah mereka yang mempunyai bakat-bakat dalam derajat tinggi dan bakat-bakat yang unggul. Ada anak yang berbakat intelektual umum, biassanya mereka mempunyai taraf intelegensi yang tinggi dan menunjukkan prestasi sekolah yang menonjol. Adapula yang mempunyai bakat akademis khusus, misalnya dalam matematika atau dalam bahasa, sedangkan dalam mata pelajaran lainnya belum tentu menonjol. Ada anak yang intelegensinyan mungkin tidak terlalu tinggi tetapi unggul dalam kemampuan berpikir kreatif-produktif. Adapula anak yang bakatnya dalam bidang olahraga atau dalam salah satu bidang seni seperti melukis atau musik. Ada anak yang di sekolah tidak termasuk siswa yang pandai, tetapi menonjol dalam keterampilan teknik. Kita juga mengenail anak-anak yang oleh teman-temannya atau oleh guru selalu dipilih menjadi pemimpin, karena mereka berbakat dalam bidang psikolosial.
Jelaslah, bahwa masalah bakat dapat meliputi macam-macam bidang, termasuk misalnya bakat music atau melukis dan lain-lain yang sifatnya non-intelektual.

6.       Upaya Perkembanagan Bakat Khusus Remaja Dan Implikasi-Implikasi Dalam Penyelenggaraan Pendidikan
Bagaimana kita dapat mengenal dan mengidentifikasi para remaja yang mempunyai bakat khusus? Bagaimana karakteristik atau cirri-ciri mereka? Alat-alat apa yang dapat digunakan untuk mengetahui bakat-bakat khusus mereka? Semua informasi ini diperlukan sebelum dilakukan upaya pengembangan bakat-bakat khusus remaja.
Sampai sekarang boleh dikatakan belum ada tes bakat yang cukup luas daerah pemakaiannya (seperti misalnya tes intelegensi); berbagai tes bakat yang sudah ada misalnya FACT (Flanagen Aptitude Clasi-fication Test) yang disusun oleh Flanagen, DAT (Differential Aptitude Test) yang disusun oleh Binnet, M-Ttest (Mathematical and Technical Test) yang disusun oleh Luningprak masih sangat terbatas daerah berlakunya. Hal ini disebabkan tes bakat sangat terikat kepada konteks kebudayaan dimana tes disusun, sedang macam-macam bakat juga terikat kepada konteks kebudayaan dimana klasifikasi bakat itu dibuat.
Yang harus diukur oleh alat identifikasi adalah baik potensi (bakat pembawaan) maupun bakat yang sudah terwujud dalam prestasi yang tinggi. Alat ukur atau tes apa yang dipakai tentu saja tergantung pada macam bakat yang diberi.
Bagaimana orang tua dapat mengenai bakat khusu anak? Bakat anak dapat dikenali dengnan observasi terhadap apa yang selalu dikerjaklan anak, kesungguhan bakat anak bermanfaat bagi orangtua agar mereka dapat memahami dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak. Dengan mengenai ciri-ciri anak berbakat, orang tua dapat menyediakan lingkungan pendidikan yang sesuai dengan bakat anak. Mereka dapat membantu anak memahami dirinya agar tidak melihat bakat sebagai suatu beban tetapi sebagai suatu anugrah yang harus dihargai dan dikembangkan. Manfaat lain dari kemampuan orang tua untuk mengenal bakat anak ialahh agar orangtua dapat membantu sekolah dalam prosedur pemanduan anakk berbakat, dengan memberikan informasi yang dibutuhkan tentang cirri-ciri dan keadaan anak mereka.
                Sekolah mengirim daftar/ciri-ciri  perilaku kepada orangtua dengan penjelasan bahwa sekolah perlu mengetahui sifat-sifat siswa agar dapat merencanakan pengalaman pendidikan yang sesuai baginya. Sebagai contoh, orangtua diminta memberi keterangan tentang butir-butir berikut ini:
-          Hobi dan minat-mianat anak yang khusus,
-          Jenis buku yang disenagi,
-          Masalah dan kebutuhan khusus,
-          Prestasi unggul yang pernah dicapai,
-          Kegiatan kelompok yang disenangi,
-          Kegiatan mandiri yang disenangi,
-          Sikap anak terhadap sekola/guru, dan
-          Cita-cita untuk masa depan.
Adapun kondisi-kondisi lingkungan yang bersifat memupuk bakat anak adalah keamanan psikologis dan kebebasan psikologis.
Anak akan merasa aman secara psikologis apabila:
a.       Pendidik dapat menerimanya sebagaimana adanya, tanpa syarat dengan segala kekuatan dan kelemahannya, serta memberi kepercayaan padanya bahwa pada dasarnya ia baik dan mampu.
b.      Pendidik mengusahakan  suasana dimana  anak tidak merasa “dinilai” oleh orang lain. Member penilaian terhadap seseorang dapat dirasakan sebagai ancaman, sehingga menimbulkan kebutuhan akan pertahanan diri.
c.       Pendidikan memberi pengertian dalam arti dapat memahami pemikiran, perasaan, dan perilaku anak, dapat menempatkan diri dalam situasi anak dan melihat dari sudut pandang anak. Dalam suasana ini anak meras aman unuk mengungkapkan bakatnya.
Anak akan merasakan kebebasan psikologis apabila orangtua dan guru memberi kesempatan padanya untuk mengungkapkan pikira-pikiran dan perasaan-perasaannnya. Kecuali itu pendidikan hendaknya berfungsi mengembangkan bakat anak, jangan semata-mata menyajikan kumpulan pengetahuan yang bersifat skolastik.
Pada akhirnya masa remaja anak sudah banyak memikirkan tentang apa yang ingin ia lakukan dan apa yang ia mampu lakukan. Makin banyak mendengar tentang macam-macam kemungkinan, baik dalam bidang pendidikan maupun dalam pekerjaan , dapat membuatnya ragu-ragu mengenai apa yang sebetulnya paling cocok baginya. Dengan pengenalan bakat yang dimilikinya dan upaya pengembangannya dapat membantu remaja untuk dapat m,enentukan pilihan yang tepat dan menyiapkan dirinya untuk dapat mencapai tujuan-tujuannya.



               





Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENDENGARAN DAN PENGLIHATAN

Makalah Penelitian Air Sungai Martapura Banjarmasin

jurnal seminar hukum ohm