semesta mendukung
MEREVIEW
FILM SEMESTA MENDUKUNG
YANG
DIKAITKAN DENGAN PEMBAHASAN PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN DAN PERKEMBANGAN
KEMANDIRIAN
MAKALAH
INDIVIDU
Untuk Memenuhi Tugas Mata kuliah Pendidikan Peserta
Didik
Dosen Pembimbing: Sulistiyana S.Pd
Dosen Pembimbing: Sulistiyana S.Pd
Disusun Oleh:
Nurul Hasanah
NIM. A1C414210
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN
PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
LAMBUNG MANGKURAT
2015
seMESta menduKUNG
Ringkasan cerita film seMESta
menduKUNG
Kisah yang mengangkat tentang
keluarga miskin, dimana sang istri terpaksa bekerja sebagai TKW di negeri
seberang guna mencari nafkah tambahan untuk keluarganya, karena suaminya yang
bekerja sebagai petani garam kini sedang mengganggur akibat paceklik melanda
ladang garam. Sekarang suami tersebut bekerja sebagai supir truk.
Anak dari pasangan suami istri
tersebut, bernama Muhammad Arief yang tinggal bersama ayahnya. Arief sangat
gemar dengan sains, terutama dengan mata pelajaran fisika. Setelah
bertahun-tahun hidup berdua dengan ayahnya, sedangkan sang Ibu belum pernah
memberi kabar kepada Arief, membuat Arief sangat khawatir dan cemas, Arief
sangat rindu dengan kasih sayang ibunya yang lama sekali dinantikannya.
Suatu hari Arief bertemu dengan Cak
Alul yang mengatakan alasan kenapa ibu Arief pergi. Arief tentu penasaran
karena selama ini Arief hanya mengetahui bahwa sang Ibu pergi bekerja di Singapur
untuk mencari uang. Cak Alul mengatakan bahwa Ibu Arief pergi karena benci dan
tak tahan dengan kelakuan ayah Arief yang gemar bermain judi. Mengetahui hal
itu, Arief sungguh marah.
Rasa rindu Arief membuat Arief
bertekad untuk mencari Ibunya di negeri seberang, tepatnya di Singapore. Setiap
hari setelah pulang sekolah, Arief bekerja di bengkel untuk mencari uang
tambahan, dari penghasilan tersebut, rencananya akan Arief kumpulkan untuk
pergi mencari Ibunda tercintanya.
Di sekolah, Arief murid yang
pandai, apalagi dalam bidang fisika, mata pelajaran kesukaan Arief. Tentu saja
ibu gurunya, melihat ada potensi dalam diri sang anak. Ibu guru tersebut
menyarankan kepada Arief agar mau untuk mengikuti olimpiade sains. Ternyata
Olimpiade Sains tersebut akan diselenggarakan di Singapur.
Singapur adalah impian Arief
untuk pergi mencari Ibunda tercintanya. Sungguh ini merupakan tujuan Arief.
Atas dasar itulah Arief mau untuk mengikuti seleksi Olimpiade Sains ini. Apapun
akan Arief usahakan guna menemukan sang Ibu, walaupun dengan mengikuti
Olimpiade Sains yang memiliki saingan sangat ketat. Arief bergabung dengan tim
yang bernama FUSI yaitu Fisika Untuk Siswa Indonesia.
Di sana, Arief banyak belajar. Kalimat
dari ibu guru yang selalu menyemangatinya adalah bahwa saingannya adalah orang
yang sama sepertinya, butuh belajar untuk lebih mengerti, butuh makan untuk
bisa bertahan hidup, butuh oksigen untuk bernafas. Jadi, tidak ada yang tidak
mungkin di dunia ini.
Dari sinilah Arief, semakin
semangat dan yakin kalau dirinya bisa lolos hingga sampai ke Singapur. Hingga
akhirnya Arief menjadi siswa yang mengangkat nama bangsa Indonesia dalam
Olimpiade Sains tersebut.
Arief bukan hanya cinta kepada
Ibunda nya saja, melainkan kepada bangsa dan negaranya. Arief turut serta dalam
membuat nama Indonesia menjadi lebih harum dalam bidang pendidikan.
Dari
ringkasan cerita di atas dapat kita simpulkan bahwa tokoh Muhammad Arief
memiliki kepribadian mandiri, ulet, tekun, gigih, bertanggung jawab serta
memiliki ketekadan yang sangat kuat. Tokoh Tari Hayat memiliki kepribadian
gigih, tidak pantang menyerah, yang sangat
Dari pemaparan –
pemaparan di atas dapat kita kaitkan
atau hubungkan dengan materi tang telah disampaikan oleh kelompok 8 yaitu Perkembangan
Kepribadian Dan Perkembangan Kemandirian. Menurut Erikson,identitas pribadi
seseorang itu tumbuh dan terbentuk melalui perkembangan proses krisis
psikososial yang berlangsung dari fase ke fase. Ia berasumsi bahwa setiap
individu yang sedang tumbuh itu dipaksa
harus menyadari dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya yang
berkembang semakin luas. Kalau individu yang bersangkutan mampu mengatasi
krisis demi krisis ia akan muncul dengan suatu kepribadian yang sehat yang
ditandai oleh kemampuan menguasai lingkungannya,fungsi-fungsi psikofisiknya terintegrasi,
dan memahami dirinya secara optimal. Sebaliknya,kalau ia tidak mampu mengatasi
krisis-krisis psikososial tersebut,maka ia akan larut (deffuse) ditelan
arus kehidupan masyarakatnya yang terus berkembang ( over changing society).
Dari pernyataan
Erikson di atas kita kaitkan dengan kepribadian Muhammad Arief dimana ia harus dipaksa menyadari dan berinteraksi dengan
lingkungan sosialnya yang berkembang semakin luas contohnya tokoh Arief yang
memiliki tekad mencari sang karena kerinduannya ia harus mengumpulkan uang
dengan cara bekerja setelah pulang sekolah dan disitulah ia juga harus mampu
beradaptasi dengan lingkungannya terutama masyarakat sekitar. Kalau individu
yang bersangkutan mampu mengatasi krisis demi krisis ia akan muncul dengan
suatu kepribadian yang sehat yang
ditandai oleh kemampuan menguasai lingkungannya,fungsi-fungsi psikofisiknya
terintegrasi, dan memahami dirinya secra optimal.
Tokoh Arief
adalah anak sekolah (school age). Pada masa ini ia pada umumnya mulai
dituntut untuk dapat mengerjakan atau menyelesaikan sesuatu dengan baik bahkan
sempurna. Kemampuan melakukan hal-hal tersebut menumbuhkan kepercayaan atas
kecakapannya menyelesaikan sesuatu tugas. Kalau tidak, padanya akan mulai
tumbuh bibit perasaan rendah diri (inferiority) yang akan dibawanya pada
taraf perkembangan selanjutnya. Pada ringkasan cerita di atas bahwa tokoh Arief
ini mampu menyelesaikan sesuatu dengan baik meskipun ada hambatan- hambatan
yang harus ia lalui. Disitulah kepribadian tokoh Arief diuji semakin dia mampu
mengatasi permasalahan – permasalahan tersebut, maka semakin kuat kepribadian
dan kemandirian dia terbentuk. Kemampuan kecakapan, bersosialisasi, dan
kemandirian akan tumbuh dalam diri.
Ciri individu
yang memiliki identitas diri yakni individu tersebut memiliki karakteristik
seperti di bawah ini.
1. Evaluasi
diri (self evaluation).
Penerimaan
kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri
individu yang baik, berarti ia mampu untuk menilai,menaksir,mengevaluasi
potensi dirinya sendiri. Kemampuan evaluasi diri tumbuh karena ada kesadaran
akan segala potensi yang ada. Mereka yang memiliki konsep diri yang baik,karena
mampu mengevaluasi diri/menilai aspek-aspek dalam dirinya. Dengan
demikian,kadang-kadang evaluasi diri menjadi dasar pembentukan self concept.
2. Harga
diri (self esteem).
Seseorang
yang mampu mengevaluasi diri akan memungkinkan diri individu dapat menempatkan
diri pada posisi yang tepat,artinya sejauh dia dapat menghargai diri sebagai
seorang pribadi yang memiliki kemandirian, kemauan, kehendak, dan kebebasan
dalam menentukan perilaku hidupnya. Seseorang yang memiliki harga diri yang
baik akan dapat menghargai diri secara proporsional. Ia tidak akan mengukur
dirinya lebih tinggi dari yang seharusnya,kalau memang saat ini belum saatnya.
Namun, penghargaan diri yang wajar dan proporsional merupakan tindakan yang
tepat bagi seorang individu yang memiliki identitas diri matang. Pernghargaan
diri yang benar diwujudkan dengan bagaimana seorang individu berkata, bersikap,
berfikir, maupun bertindak yang didasarkan atas nilai-nilai norma, etika,
kejujuran, kebenaran, maupun keadilan. Pengingkaran dari nilai-nilai tersebut
menunjukkan rendahnya harga diri seseorang.
3. Efikasi
diri.
Efikasi
yakni kemampuan untuk menyadari, menerima, dan mempertanggungjawabkan semua
potensi, keterampilan, atau keahlian secara tepat. Orang yang memiliki self efficacy akan menempatkan dirinya pada
posisi yang tepat. Misalnya kalau seseorang memiliki bakat,
kemampuan,keterampilan menyanyi, maka ia akan mampu menampilkan kemampuannya
karena memang itu bidabg keahliannya. Namun, ia akan menolak untuk memainkan
musik,karena ia memang tidak pandai di bidang itu. Efikasi diri akan mendorong
individu untuk menghargai dan menempatkan diri pada posisi yang tepat. Karena
itu ia tahu dimana dan kapan ia harus mempertanggungjawabkan kapasitas
bakat-bakatnya dengan baik.
4. Kepercayaan
diri (self confidence).
Kepercayaan
diri tumbuh dari kehidupan kelompok sosial atau keluarga yang saling memercayai
antara satu dengan yang lainnya. Orang tua memercayai anak,maka anak akan
tumbuh dengan karakteristik untuk memercayai orang tua. Dalam hal ini,karena
mereka hidup dan tumbuh dalam suasana hubungan keluraga yang hangat dan penuh
kasih sayang,serta menjunjung nilai-nilai kejujuran dan kebenaran. Kepercayaan
diri adalah keyakinan terhadap diri sendiri bahwa ia memiliki kemampuan dan kelemahannya, dan dengan kemampuan
tersebut ia merasa optimis dan yakin akan mampu menghadapi kelemahannya dengan
baik. Dengan kepercayaan diri,sesorang dapat berfikir dan bertindak
antisipatif, artinya apa yang difikirkan cenderung melihat ke arah masa depan.
Fikiran antisipatif akan memperhitungkan sisi kelebihan dan kelemahan diri
sendiri,sehingga orang yang percaya diri akan merasa siap untuk menerima dan
merasakan kegagalan. Namun demikian,dengan rasa percaya diri,ia akan bangkit
lagi guna memperbaiki diri sehingga dapat meraih keberhasilan hidupnya.
5. Tanggung
jawab (responsibility).
Yakni
rasa tanggung jawab terhadap apa yang menjadi hak dan kewajibannya. Sesorang
yang memiliki tanggung jawab biasanya akan melaksanakan kewajiban dan
tugas-tugasnya sampai selesai. Justru karena rasa tanggung jawab inilah
seseorang akan melaksanakan tugasnya sampai tuntas,walau harus mengorbankan banyak tenaga waktu, bahkan biaya. Dengan
selesainya tugas tersebut dengan baik,maka akan menumbuhkan rasa kebanggan,
kepuasan batin,kesenangan,kebahagiaan hidup, dan harga diri.
6. Komitmen.
Komitmen
yakni tekad atau dorongan internal yang
kuat untuk melaksanakan suatu janji,ketepatan hati yang telah disepakatinya sampai benar-benar
selesai dengan baik. Orang yang memiliki komitmen biasanya perhatian,
pemikiran,dan tenaganya tercurah untuk mencapai tujuan akhir dari komitmennya.
Namun ukuran berhasil atau tidaknya bukanlah menjadi tolak ukur utama. Memang
orang yang memiliki komitmen akan berusaha keras mencapai keberhasilan,
termasuk berusaha untuk mengatasi semua rintangan/hambatan yang menyebabkan
kegagalan. Namun kalau ternyata tetap gagal, maka ia akan berani
mempertanggungjawabkan secara moral. Dalam komitmen mengadung unsur tanggung
jawab moral,artinya seorang individu telah mengucapkan komitmen maka secara
moral ia akan terikat dengan komitmennya. Ikatan ini mendorong seseorang untuk
memenuhi komitmen tersebut sampai tuntas. Pengingkaran terhadap suatu komitmen
cenderung akan merendahkan harga diri dan integritas kepribadiannya diragukan
di mata orang lain.
7. Ketekunan.
Untuk
melakukan suatu tanggungjawab dan komitmen sampai tuntas,dibutuhkan suatu sifat
yang setia dan tekun untuk tetap bertahan pada kewajibannya. Ketekunan biasanya
mengutamakan atau memprioritaskan tugas utamanya, dan berani mengorbankan
hal-hal yang dianggap sekunder (nomor dua). Orang yang memiliki ketekunan
berarti dalam dirinya muncul etos kerja yang pantang menyerah sebelum segala
sesuatunya beres seratus persen. Ketekunan tidak mengenal putus asa, dalam arti
bahwa apa yang dilakukan selalu berorientasi pada masa depan. Walaupun apa yang
dilakukan belum berhasil, namun dengan sifat ketekunan, maka suatu ketika kerja
kerasnya yang tekun akan membuahkan suatu keberhasilan yang indah. Orang yang
tekun dalam melakukan suatu tugas, biasanya ditandai dengan karakteristik
kemandirian, rasa percaya diri, optimis, dan pantang menyerah.
8. Kemandirian.
Kemandirian
merupakan salah satu sifat dalam diri orang yang memiliki identitas (jati
diri). Kemandirian ialah sifat yang tidak bergantung pada orang lain. Ia akan
berusaha menyelesaikan masalah dalam hidupnya sendiri. Ia akan berusaha menggunakan
segenap kemampuan,inisiatif,daya kreasi,kecerdasannya dengan sebaik-baiknya.
Dengan kemandirian inilah justru merupakan tantangan untuk membuktikan
kreativitasnya. Dengan demikian,akan mendorong diri dapat mengaktualisasikan
dirinya dengan sebaik-baiknya.
Semua
karakteristik tersebut,tidak terpisah-pisah antara satu dengan yang lainnya.
Semua saling berkaitan dan saling menunjang untuk membentuk sinergisme,
sehingga menjadi daya kekuatan yang mampu mendorong seseorang memiliki
kepribadian yang baik. Demikian pula, remaja yang telah memiliki karakteristik
tersebut, berarti ia telah mencapai identitas diri yang baik.
Dilihat dari
karakteristik – karakteristik di atas, tokoh Arief memenuhi karakteristik
tersebut.
Komentar
Posting Komentar