Makalah Penelitian Air Sungai Martapura Banjarmasin
KARAKTERISTIK AIR SERTA POTENSI
YANG DAPAT DIKEMBANGKAN DI SUNGAI MARTAPURA BANJARMASIN KALIMANTAN SELATAN
MAKALAH HASIL
PENELITIAN
Untuk Memenuhi
Tugas Mata Kuliah Fisika Fluida
ABKC 4608
Dosen Pembimbing : Drs. Zainuddin, M.Pd
Disusun Oleh:
Aprilia Dwi A.
(A1C414205) M. Faisal Ilmi
(A1C414027)
Ira Mariani
(A1C414024) Ni Ketut
Sutiniasih (A1C414090)
Irma Sari
(A1C414206) Nurul
Hasanah (A1C414210)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
JUNI 2016
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Indonesia
adalah Negara maritim yang terdiri dari pulau-pulau dan dihubungkan dengan
laut. Indonesia sebagian besar wilayahnya adalah laut. Selain laut Indonesia
juga memiliki jutaan sungai baik besar maupun kecil. Sungai-sungai di Indonesia
tersebar diseluruh pulau, termasuk pulau Kalimantan. Apabila kita membahas
sungai dipulau Kalimantan maka pasti terbesit dibenak kita mengenai sungai
terbesar di Indonesia yaitu sungai Mahakam yang terletak di pulau Kalimantan tepatnya
di Kalimantan Timur. Selain memiliki Sungai terbesar, Kalimantan juga memiliki
jutaan sungai sungai kecil. Salah satu daerah yang memiliki sungai terbanyak
adalah Banjarmasin yang dijuluki sebagai daerah seribu sungai.
Banjarmasin
sebagai daerah seribu sungai harus benar-benar bisa memaksimalkan
potensi-potensi sungai tersebut untuk menunjang kemajuan daerah. Sungai apabila
bisa dimanfaatkan dan dikembngkan dengan baik maka dapat memberi keuntungan
yang begitu banyak. Maka dari itu untuk mengetahui potensi dari sungai-sungai
dikalimantan selatan, kami melakukan penelitian di Sungai Martapura untuk
mengetahui karakteristik air di sungai tersebut. Dengan mengetahui
karakteristik dari sungai tersebut, maka kita dapat menganalisa potensi-potensi
apa saja yang dapat dikembangkan di daerah aliran Sungai Martapura Banjarmasin
ini agar menjadikan Banjarmasin sebagai kota yang dapat bersaing dengan
kota-kota lain diseluruh Indonesia. Selain itu untuk memajukan Banjarmasin di
bidang pengelolaan sungai karena letak strategis Banjarmasin sebagai kota
seribu sungai.
B. Rumusan
Masalah
1. Bagaimanakah
kekeruhan air sungai Martapura?
2. Bagaimana
kecepatan aliran sungai Martapura?
3. Bagaimana
suhu air dan lingkungan air sungai martapura?
4. Bagaimana
kadar garam air sungai martapura?
5. Bagaimana
kecepatan angin?
6. Bagaimana
Ph air sungai martapura?
7. Bagaimana
potensi sungai martapura?
C. Tujuan
Mengetahui tingkat
kekeruhan air, kecepatan aliran, suhu air, suhu lingkungan, kadar garam,
kecepatan angin, Ph air dan potensi air
pada sungai Martapura
D. Manfaat
Memperluas pengetahuan
dan pemahaman tentang sungai martapura serta potensi yang dapat dikembangkan di
sungai martapura.
E. Ruang Lingkup
Penilitian
dilakukan pada:
Hari,
tanggal : Kamis, 26 Mei 2016
Tempat : Jl. Piere Tendean
Menara Pandang Sungai
Martapura
Banjarmasin Kalimantan Selatan
Waktu :
14.00 – 15.00 WITA
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Air
merupakan pelarut yang baik. Hal ini menyebabkan air di alam tidak dijumpai
dalam keadaan murni. Air di alam mengandung berbagai zat terlarut dan tidak
larut. Air di alam juga mengandung berbagai mikroorganisme. Apabila kandungan
yang terdapat dalam air tidak mengganggu kesehatan manusia, maka air tersebut dapat dianggap bersih (Aliya,
2008: 4). Air di alam sangat jarang ditemukan dalam keadaan murni. Sekalipun
air hujan, meskipun awalnya murni, telah mengalami reaksi dengan gas-gas di
udara dalam perjalanannya turun ke bumi dan selanjutnya terkontaminasi selama
mengalir di atas permukaan bumi dan dalam tanah. Kualitas air menyatakan
tingkat kesesuaian air terhadap penggunaan tertentu dalam memenuhi kebutuhan
hidup manusia, mulai dari air untuk memenuhi kebutuhan langsung yaitu air
minum, mandi dan cuci, air irigasi atau pertanian, peternakan, perikanan,
rekreasi dan transportasi. Kualitas air mencakup tiga karakteristik, yaitu
fisik, kimia, dan biologi (Suripin, 2002: 148).
Lingkungan
abiotik merupakan komponen fisik tak hidup dan kimiawi yang mempengaruhi
lingkungan biotik berupa makhluk hidup yang menghuni lingkungan tersebut.
Pertumbuhan mikroorganisme akuatik dipengaruhi oleh faktor tersebut tidak hanya
pada ukuran dan komposisi populasi mikrobial, tetapi juga pada morfologi dan
fisiologi secara individual. Misalnya pada berbagai temperatur atau di bawah
temperature optimum akan menyebabkan perubahan metabolisme, bentuk sel, dan
reproduksinya. Komponen abiotik terdiri dari semua substansi dan kekuatan yang
ada dalam habitat yang mempengaruhi organisme, karena itu komponen abiotik
adalah kumpulan semua lingkungan fisik.5 Komponen abiotik yang paling utama
diperairan adalah air, cahaya, kadar oksigen, suhu, salinitas dan kecerahan.
Salah satu parameter yang digunakan dalam kajian lingkungan abiotik penelitian
ini sebagai penunjang terhadap keanekaragaman zooplankton adalah parameter
fisik dan kimawi, meliputi suhu, intensitas cahaya, kecerahan dan kekeruhan,
salinitas, arus, pH, BOD dan COD.
1. Kecerahan
dan Kekeruhan
Kekeruhan
biasanya menunjukan tingkat kejernihan aliran air atau kekeruhan aliran air yang
diakibatkan oleh unsur-unsur muatan sedimen, baik yang bersifat mineral atau
organik. Kekeruhan air dapat dianggap sebagai indikator kemampuan air dalam
meloloskan cahaya yang jatuh di atas badan air. Semakin kecil atau rendah
tingkat kekeruhan suatu perairan, semakin dalam cahaya dapat masuk kedalam
badan air, dan dengan demikian, semakin besar kesempatan bagi vegetasi
akuatisnya untuk melakukan proses fotosintesis. Dengan
semakin meningkatnya proses fotosintesis, maka semakin besar persediaan oksigen yang ada dalam air untuk ketersediaan
makanan dan kelangsungan makhluk hidup lainnya, tingkat
kekeruhan suatu aliran air ditentukan dengan cara mengukur
transmisi cahaya melalui sampel air dalam satuan
milligram/liter (mg/1) atau untuk jumlah yang lebih
kecil adalah dalam parts per million (ppm). Alat yang
digunakan untuk mengukur tingkat kekeruhan air disebut
secchi. Air yang
mengandung material kasat mata dalam larutan disebut keruh. Kekeruhan dalam air
terdiri dari lempung, liat dan bahan organik, dan mikroorganisme. Kekeruhan
terutama disebabkan oleh terjadinya erosi tanah di Daerah Aliran Sungai (DAS)
maupun di saluran/sungai. Tingkat kekeruhan air biasanya diukur dengan alat
yang disebut turbidimeter. Kekeruhan untuk air minum dibatasi tidak lebih dari
10 mg/lt (skala silika), lebih baik kalau tidak melebihi 5 mg/lt (Suripin,
2002: 149).
2. Suhu
Jenis,
jumlah dan keberadaan flora dan fauna akuatis
seringkali berubah dengan adanya perubahan suhu
air, terutama oleh adanya kenaikan suhu di dalam air.
Secara umum, kenaikan suhu perairan akan mengakibatkan
kenaikan aktivitas biologi dan pada gilirannya
memerlukan lebih banyak oksigen di dalam perairan
tersebut. Hubungan antara
suhu air dan oksigen biasanya berkorelatif
negatif, yaitu kenaikan suhu di dalam air akan
menurunkan kemampuan organisme akuatis dalam
memanfaatkan oksigen yang tersedia untuk berlangsungnya
proses-proses biologi di dalam air. Kenaikan
suhu suatu perairan alamiah umumnya disebabkan
oleh aktivitas penebangan vegetasi di sepanjang
tebing aliran air tersebut. Dengan adanya penebangan
atau pembukaan vegetasi di sepanjang tebing
aliran tersebut mengakibatkan lebih banyak cahaya
matahari yang dapat menembus ke permukaann aliran air tersebut dan pada gilirannya akan meningkatkan suhu di dalam air. Walaupun variasi suhu dalam air tidak
besar di udara, hal ini merupakan faktor pembatas
utama karena organisme akuatik seringkali
mempunyai toleransi yang
sempit. Maka, walaupun terjadi populasi panas
yang sedang oleh manusia, akibatnya dapat amat luas.
Perubahan suhu menyebabkan pola sirkulasi yang khas
dan stratifikasi yang amat mempengaruhi kehidupan
akuatik. Daerah perairan yang cukup luas dapat mempengaruhi iklim daerah daratan di sekitarnya. Temperatur air merupakan hal
yang penting dalam kaitannya dengan tujuan penggunaan, pengolahan untuk
menghilangkan bahan-bahan pencemar serta pengangkutannya. Temperatur air
tergantung pada sumbernya. Temperatur normal air di alam (tropis) sekitar 20oC
sampai 30oC. Untuk sistem air bersih, temperatur ideal berkisar antara 5oC
(Suripin, 2002: 149).
Pada
umumnya, suhu dinyatakan dengan satuan derajat Celcius (oC) atau derajat
Fahrenheit (oF). Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang
(latitude), ketinggian dari permukaan laut (altitude), waktu, sirkulasi udara,
penutupan awan, aliran, serta kedalaman. Perubahan suhu mempengaruhi proses
fisika, kimia, dan biologi badan air. Suhu berperan dalam mengendalikan kondisi
ekosistem perairan (Juju, 2012).
Faktor
yang mempengaruhi tingginya suhu air diantaranya yaitu faktor ketinggian
tempat, semakin rendah ketinggian tempat potensi curah hujan yang diterima akan
lebih banyak, karena pada umumnya semakin rendah suatu daerah suhunya akan
semakin tinggi. Suhu yang tinggi inilah yang akan menyebabkan penguapan juga
tinggi (Tarigan dan Edward, 2003).
Secara umum, kelarutan bahan-bahan padat dalam air akan
meningkat, meskipun ada beberapa pengecualian. Pengaruh temperatur pada
kelarutan terutama tergantung pada efek panas secara keseluruhan pada larutan
tersebut (Sutrisno dan Eni, 2006: 26).
3. Arus
Perpindahan penentuan terlarut, air sangatlah organisme penting dalam gas juga penyebaran dan plankton, Mereka garam-garaman. mempengaruhi perilaku organisme kecil. Kecepatan aliran air yang mengalir
beragam dari permukaan ke
dasar, meskipun berada dalam saluran buatan
yang dasarnya
halus tanpa rintangan apa pun. Arus
akan paling lambat bila makin dekat ke dasar. Perubahan
kecepatan air seperti itu tercermin dalam modifikasi
yang diperlihatkan oleh organisme yang hidup dalam air mengalir yang kedalamannya berbeda.
4. Intensitas
cahaya
Cahaya
merupakan salah satu sumber daya yang menghasilkan
energi bagi kehidupan organisme. Energi
cahaya yang sampai ke bumi adalah gelombang elektromagnetik
radiasi cahaya matahari. Penyerapan energy radiasi bergantung pada substansi. Air berkemampuan rendah untuk menyerap sinar
yang panjang gelombangnya terletak pada
daerah yang nampak oleh
mata, dan akibatnya air tidak berwarna.Cahaya
merupakan faktor ekologik penting baik dalam
air maupun darat. Intensitas cahaya tertentu yang
dapat menembus kedalaman air. Misalnya, pada laut
utara, intensitas cahaya pada kedalaman 20 m hanya
lebih kurang 1% pada permukaan, sementara itu pada
laut Mediterania masih berkisar lebih kurang7,5%. Hal ini tergantung oleh
derajat turbiditas air. Masih ditemukan kehidupan biologi aktif di kedalaman
10-100 m, dan pada beberapa tempat di bawah
200 m. Indikasinya yang masih banyak ditemukan
adalah masih ada pertumbuhan alga.
5. Salinitas
Salinitas adalah konsentrasi total ion yang terdapat pada perairan. Nilai salinitas
perairan tawar biasanya kurang
dari 0,5‰, perairan payau antara 0,5‰-30‰,
dan perairan laut 30‰-40‰. Pada perairan
hipersaline, nilai salinita dapat mencapai kisaran
40‰-80‰. Pada perairan pesisir, nilai salinitas sangat
dipengaruhi oleh masukan air tawar dari Sungai.
6.
pH
pH air biasanya dimanfaatkan untuk menentukan indeks pencemaran dengan melihat tingkat
keasaman atau kebasaan air yang dikaji. Angka pH 7 adalah netral, sedangkan
angka pH lebih besar dari 7 menunjukkan bahwa air
bersifat basa dan terjadi
ketika ion-ion karbon dominan. Sedangkan angka
pH lebih kecil dari 7 menunjukkan bahwa air di tempat
tersebut bersifat asam. Pada aliran air (Sungai) alamiah,
pembentukan pH dalam aliran air tersebut sangat
ditentukan oleh reaksi karbon dioksida. Besarnya
pH dalam suatu perairan dapat dijadikan
indikator adanya keseimbangan unsur-unsur kimia
dan dapat mempengaruhi ketersediaan unsur- unsur
kimia dan unsur-unsur hara yang amat bermanfaat
bagi kehidupan akuatik. pH air juga mempunyai
peranan penting bagi kehidupan ikan dan fauna
lain yang hidup di perairan tersebut. Umumnya.
Perairan dengan tingkat pH lebih kecil
dari 4,8 dan lebih besar dari 9,2 sudah dapat dianggap
tercemar. Bagi kebanyakan ikan yang hidup di
perairan tawar, angka pH yang dianggap sesuai untuk
kehidupan ikan-ikan tersebut adalah berkisar antara 6,5 hingga 8,4. Sementara itu, untuk kebanyakan jenis ganggang tidak dapat
hidup di perairan dengan pH lebih besar dari
8,5.15 Dalam kaitannya dengan pH, keasaman air disebabkan oleh hadirnya ion hidrogen
bebas (H+), asam karbonat,
unsur-unsur asam lainnya seperti sulfur,
nitrat, dan asam fosporat di dalam air tersebut. Sifat
keasaman air merupakan karakteristik air yang penting karena ia dapat mempengaruhi berlangsungnya reaksi biologi dan kimia
serta dapat mengakibatkan
terjadinya korosi (karat) pada logam yang
terendam dalam air yang bersifat asam tersebut. Sifat
keasaman air lain yang juga telah menimbulkan permasalahan
lingkungan hidup pada tahun 1980an adalah
meluasnya kejadian yang kemudian dikenal sebagai
hujan asam dengan segala dampaknya.16 Keasamaan
dibedakan menjadi keasaman bebas dan
keasaman total. Keasaman bebas disebabkan oleh asam
kuat seperti asam kloridabdan asam sulfat. Keasaman
bebas dapat banyak menurunkan pH. Keasaman
total terdiri dari keasaman bebas ditambah keasaman
yang disebabkan oleh asam lemah. Berbeda dari proses pengasaman, proses pembasaan
atau alkalinitas adalah kapasitas atau kemampuan
air untuk menetralisir keasaman dalam air atau
kemampuan air untuk mempertahankan untuk tidak
terjadinya perubahan pH menjadi lebih rendah. Kandungan
gas oksigen terurai dalam air mempunyai
peranan menentukan untuk kelangsungan hidup
organisme akuatis dan untuk berlangsungnya proses
reaksi kimia yang terjadi di dalam badan perairan.
Gas terurai dalam aliran air yang perlu mendapat
perhatian adalah oksigen (O2).
Konsentrasi kandungan unsur oksigen dalam aliran air ditentukan oleh besarnya suhu
perairan, tekanan dan
aktivitas biologi yang berlangsung di dalam
air. Dari perspektif biologi, kandungan gas oksigen
di dalam air merupakan salah satu unsur penentu
karakteristik kualitas air yang terpenting dalam
lingkungan kehidupan akuatis. Konsentrasi oksigen
dalam air mewakili status kualitas air pada tempat
dan waktu tertentu (saat pengambilan sampel air). Proses dekomposisi bahan organik di
dalam air berlangsung
secara perlahan-lahan dan memerlukan waktu
yang relatif lama. Jika
konsumsi oksigen tinggi, yang ditunjukkan dengan
semakin kecilnya sisa oksigen terlarut di dalam air,
maka berarti kandungan bahan buangan yang membutuhkan
oksigen adalah tinggi. Organisme hidup yang
bersifat aerobik membutuhkan oksigen untuk proses
reaksi biokimia, yaitu untuk mengoksidasi bahan
organik sintesis sel, dan oksidasi sel. Perubahan
konsentrasi oksigen di dalam air juga berlangsung
secara perlahan-lahan sebagai respon oleh adanya
proses oksidasi serta merupakan respon berbagai
macam organisme terhadap suplai bahan makanan.
Oleh karenanya, menyadari pentingnya peran
oksigen di dalam suatu perairan, maka dikembangkanlah
tehnik-tehnik untuk mengantisipasi atau
memprakirakan keperluan oksigen terurai di dalam
suatu system perairan. Dengan
kata lain, keberadaan dan besar atau kecilnya
muatan oksigen didalam air dapat dijadikan indikator
ada atau tidaknya pencemaran di suatu perairan, oleh karenanya, pengukuran besarnya Biochemical Oxygen Demand (BOD) dan atau Chemical Oxygen Demand (COD) perlu dilakukan untuk menentukan status muatan oksigen
di dalam air. BOD (Biochemical
Oxygen Demand) adalah angka
indeks oksigen yang diperlukan oleh bahan pencemar yang dapat teruraikan (biodegradablepollutant) di dalam suatu sistem
perairan selama berlangsungnya proses dekomposisi aerobik. Dengan kata
lain, BOD juga dapat diartikan sebagai angka indeks
untuk tolok ukur kekuatan (tingkat) pencemar dari
limbah yang berada dalam suatu sistem perairan. Sedangkan
dekomposisi aerobik adalah proses perubahan
kimia dari terurainya mikroba-mikroba yang
menyusun molekul organik menjadi bentuk lain yang
lebih sederhana dan bersifat permanen seperti CO2,
PO4, dan NO4. Dengan demikian, proses dan bentuk
hubungan antara limbah yang dapat teruraikan di
dalam air dan jumlah oksigen yang diperlukan untuk berlangsungnya proses dekomposisi menjadi
penting untuk diketahui apabila usaha-usaha
pencegahan atau pengurangan
tingkat pencemaran perairan mendesak untuk
dilaksanakan. Semakin besar angka indeks BOD suatau
perairan, semakin besar tingkat pencemaran yang
terjadi.22 Berikut ini merupakan tabel 2. 1 tentang standar BOD untuk penentuan kualitas
air.
7. Warna
Air murni tidak berwarna. Warna dalam air diakibatkan oleh
adanya material yang larut atau koloid dalam suspensi atau mineral. Air yang
mengalir melewati rawa tau tanah yang mengandung mineral dimungkinkan untuk
mengambil warna material tersebut. Batas intensitas warna yang dapat diterima
adalah 5 mg/lt.
Sinar
matahari secara alamiah mempunyai sifat disinfeksi dan menggelantang pada bahan
pewarna air, tetai pengaruhnya hanya pada kedalaman beberapa centimeter dari
permukaan air keruh. Untuk air yang jernih, pengaruh penggelantangan dapat
mencapai kedalaman 1,5 m (Suripin, 2002: 149).
Warna dalam air juga dapat ditimbulkan oleh kehadiran
organisme, bahan-bahan tersuspensi yang berwarna dan oleh ekstrak
senyawa-senyawa organik serta tumbuh-tumbuhan. Warna yang berasal dari
bahan-bahan buangan industri kemungkinan dapat membahayakan kesehatan (Unus,
1996: 91).
Banyak
air permukaan khususnya yang berasal dari daerah rawa-rawa, seringkali berwarna
sehingga tidak dapat diterima oleh masyarakat baik untuk keperluan rumah tangga
maupun untuk keperluan industri, tanpa dilakukannya pengolahan untuk dapat
menghilangkan unsur warna dalam air tersebut (Sutrisno dan Eni, 2006: 28).
8. Bau
Air yang baik idealnya juga tidak berbau. Air yang berbau
busuk tidak menarik dipandang dari sudut estetika. Selain itu juga, bau busuk
disebabkan proses penguraian bahan organik yang terdapat di dalam air (Ricky,
2005: 60).
Air minum yang berbau, selain tidak estetis juga tidak
disukai oleh masyarakat. Bau air dapat memberi petunjuk terhadap kualitas air,
misalnya bau amis dapat disebabkan oleh adanya algae dalam air tersebut
(Juju, 2012).
Menurut Slamet (2007), bau dalam air dihasilkan oleh adanya
organisme dalam air seperti alga serta oleh adanya gas seperti H2S yang
terbentuk dalam kondisi anaerobik, dan oleh adanya senyawa-senyawa organik
tertentu (dalam Arifin, 2011).
Menurut Purwaningsih (2008) Bau adalah sebuah sifat yang
menempel pada sebuah benda yang diakibatkan adanya zat organik ataupun
anorganik yang tercampur di dalam air, umumnya dengan konsentrasi yang sangat
rendah, yang manusia terima dengan indera penciuman. Kualitas air bersih yang
baik adalah tidak berbau, karena bau ini dapat ditimbulkan oleh pembusukan zat
organik seperti bakteri serta kemungkinan akibat tidak langsung dari pencemaran
lingkungan, terutama sistem sanitasi. Pengukuran bau bersifat subjektif dengan
respon organoleptik. Bau dapat berupa bau spesifik maupun bau tidak spesifik.
(Public Health, 2012).
9. Rasa
Air yang berasa menunjukkan kehadiran berbagai zat yang dapat
membahayakan kesehatan. Efek yang dapat ditimbulkan terhadap kesehatan manusia
tergantung pada penyebab timbulnya rasa (Juju, 2012).
Menurut Sutrisno (2006: 30) Rasa biasanya disebabkan oleh
adanya bahan-bahan organik yang membusuk, tipe-tipe tertentu organisme
mikroskopik.
Rasa dalam air juga dapat disebabkan oleh adanya senyawa besi
yang terkandung dalam air. Air akan terasa tidak enak bila konsentrasi besi
terlarutnya >1,0mg/l. Jika di gunakan untuk mencuci pakaian, akan
menyebabkan pakaian putih menjadi kuning (Julia, 2012).
Rasa dalam air dapat menunjukkan kemungkinan adanya
senyawa-senyawa asing yang mengganggu kesehatan. Selain itu dapat pula
menunjukkan
BAB
III
METODOLOGI
PENELITIAN
A. Alat
dan Bahan
1. Alat
pengukur PH
2. Ichi
Dish
3. Bola
Arus
4. Salinometer
5. Termometer
6. Stopwatch
7. Anemometer
8. Kestrel
9. Kompas
10. Meteran
B. Fungsi Alat dan Bahan:
1. Untuk
mengetahui tingkat keasaman air
2. Untuk
mengetahui tingkat kekeruhan air
3. Untuk
mengetahui kecepatan aliran air
4. Untuk
mengetahui tingkat salinitas/kadar garam
5. Untuk
mengetahui suhu air
6. Untuk
mengukur waktu kecepatan bola arus
7. Untuk
mengukur kecepatan angin
8. Untuk
mengukur suhu disekitar
9. Untuk
menentukan arah mata angin
10. Untuk
mengukur panjang tali
C. Cara Kerja:
1. Mengukur
tingkat kekeruhan
Untuk mengukur tingkat
kekeruhan digunakan alat seperti pada gambar dibawah ini:
Gambar 3.1. Ichidish
Cara
menggunakannya adalah dengan menenggelamkan alat tersebut sampai warnanya tidak
terlihat kemudian mengukur panjang tali yang masuk kedalam air dengan
menggunakan meteran.
2. Mengukur
Kecepatan air
Untuk mengukur
kecepatan air digunakan bola pimpong seperti gambar dibawah ini:
Gambar 3.2. Bola arus
Cara mengukurnya adalah
dengan membentangkan tali pada bola pimpong sepanjang satu meter sampai tali
tersebut menjadi lurus dan mencatat waktunya mulai bola dimasukkan kedalam air
sampai tali menjadi lurus dengan menggunakan stopwatch.
3. Mengukur
Suhu Air
Untuk mengukur suhu air
digunakan termometer seperti gambar dibawah ini:
Gambar 3.3. Termometer
Cara menggunakannya
adalah dengan mencelupkan termometer kedalam sungai selama beberapa saat.
4. Mengukur
suhu lingkungan
Untuk mengukur suhu
lingungan digunakan alat seperti pada
gambar dibawah ini:
Gambar 3.4. Kesetrel
Cara menggunakannya
adalah menghidupkan alat terlebih dahulu dengan menekan tombol On/Off kemudian
mengarahkan ke udara dan melihat skala yang tertera pada alat tersebut.
5.
Mengukur Tingkat Kadar garam
Untuk
mengukur kadar garam digunakan alat seperti gambar dibawah ini:
Gambar 3.5. Salinometer
Cara
menggunakannya adalah pertama ambil gelas ukur yang panjang, isi
dengan air sampel yang akan diukur salinitasny. Setelah itu, Salinitas akan
terbaca pada skalanya.
6. Mengukur
kecepatan Angin
Untuk mengukur
kecepatan angin digunakan alat seperti gambar dibawah ini:
Gambar 3.6. Anemometer
Cara menggunakannya
adalah menekan tombol On/Off pada alat. Kemudian, menetapkan arah mata angin
lalu mengarahkan alat tersebut ke arah angin setelah itu melihat skala yang
tertera pada alat.
7. Mengukur Tingkat Keasaman Air
Gambar 3.7. PH meter
Pertama ambil sampel air yang mau di
ukur pHnya kemudian nyalakan alat pH
meter tersebut dan kemudian masukkan ke
dalam air Uji dan tunggu sampai Digital Number pada pH meter Tersebut Sampai Posisi tidak Berubah Berubah ( sampai
tenang). Ph air yang ideal adalah 6,5 - 8,5 dan TDS kurang dari 50 ppm jika pH dibawah 6 maka air akan asam dan
jika di atas 8,5 maka air akan terasa pahit.
BAB
IV
PEMBAHASAN
Berdasarkan
penelitian yang telah dilakukan,untuk mengetahui kecepatan air, PH, suhu,
kekeruhan, kecepatan angin, kadar garam pada aliran sungai Martapura yang telah
dilakukan. Maka diperoleh data yang dapat dianalisis pada pembahasan di bawah
ini.
1. Kekeruhan
Air
Kekeruhan ialah ketidakjernihan
atau kekaburan sesuatu larutan. Kekeruhan air pada penelitian ini diukur dengan
menggunakan alat yaitu Ichidish. Alat ini berupa piringan berwarna yang
ditenggelamkan pada air hingga tidak terlihat warnanya. Panjang tali yang
tercelup kedalam air tersebutlah yang digunakan untuk mengukur tingkat
kekeruhan air. Dimana semakin panjang tali maka tingkat kekeruhan air semakin
kecli, sedangkan semakin kecil panjang tali maka semakin tinggi tingkat
kekeruhan air. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh data
sebagai berikut :
Dari
data tersebut, jelas kita lihat bahwa perbandingan panjang tali terhadap
kedalaman yaitu 1: 3. Ini menyatakan bahwa tingkat kekeruhan air berada tingkat
yang tinggi.Selain berdasarkan pengukuran, kekeruhan air juga dapat dilihat
dari warna air sungai martapura yang berwarna coklat, yang berate tingkat
kekeruhannya tinggi.
Gambar 4.1
Panjang tali hingga warna tak terlihat
2. Kecepatan Air
Seperti
yang telah dijelaskan pada metodologi penelitian, alat yang digunakan untuk
mengetahui kecepatan air sungai Martapura yaitu bola ringan yang diikatkan pada
tali. Dimana datanya adalah sebagai berikut :
Panjang
Tali : 1 meter
Waktu
yang diperlukan agar tali menjadi lurus : 77 sekon
Berdasarkan
hasil yang diperoleh, dapat kita lihat bahwa kecepatan air pada aliran sungai
martapura yaitu sebesar 0,14 m/s. Ini berarti kecepatan air pada aliran sungai
martapura yaitu masih dalam taraf normal atau kecepatannya tidak terlalu
tinggi.
Gambar 4.2 waktu yang diperlukan agar panjang tali 1 meter dapat
terlentang lurus
3. Suhu
Air dan Suhu Lingkungan
Pada
metodologi penelitian telah dijelaskan bahwa alat untuk mengukur suhu air yaitu
thermometer.Suhu adalah derajat panas dinginnya suatu benda. Pengukuran suhu
air ini dilakukan pada jam 14.15 siang. Selain suhu air diukur pula suhu
lingkungan untuk mengetahui tingkat suhu normal air terhadap suhu lingkungan.
Dimana data yang diperoleh yaitu :
Pada
data tersebut, dapat kita lihat bahwa suhu didalam air sungai berbeda dengan
suhu di lingkungan yang walaupun perbedaannya tidak terlalu jauh. Suhu di dalam
air lebih tinggi dibandingkan dengan suhu dilingkungan. Perbedaan suhu dalam
air dengan suhu di lingkungan dapat
dipengaruhi oleh perlakuan pemanasan atau pendiningianan dan pada kondisi
normal perbedaan suhu disebabbkan banyaknya partikel dalam air yang menyumbang
kalor sebesar x, baik organik maupun anorganik termasuk logam yang memeliki
dapat mengeluarkan kondisi panas saat daam air. Inilah sebabnya suhu di
dalam air lebih tinggi dibandingkan suhu di lingkungan.
Gambar
4.3 Suhu air yang terukur pada termometer
4. Kadar Garam
Salinitas
adalah ukuran atau tingkat kadar garam yang ada pada air. Sesuai dengan
metodelogi di atas bahwa alat yang digunakan untuk mengukur kadar garam yaitu
salinometer. Dimana data yang diperoleh adalah sebagai berikut :
Berdasarkan
data tersebut jelas terlihat bahwa pada sungai martapura, tidak ada kadar garam
yang terkandung dalam air. Itu juga diperjelas bahwa air sungai adalah air
tawar sehingga tidak ada kadar air pada aliran sungai martapura ini. Ini jug
menunjukkan bahwa air sungai martapura ini masih dalam keadaan normal (air
tawar).
Gambar
4.4 kadar garam pada air
5. Kecepatan Angin
Angin
adalah gerakan udara secara horizontal. Angin mempunyai arah dan
kecepatan. Angin dapat bergerak horizontal atau vertikal dengan kecepatan
bervariasi atau berfluktuasi dinamis. Kecepatan angina dapat diukur dengan
menggunakan alat yaitu anemometer. Dimana data yang diperoleh mengenai
kecepatan angina pada daerah sekitar sungai martapura adalah sebagai berikut :
Dari
data tersebut jelas kita lihat bahwa kecepatan angin pada daerah sekitar sungai
martapura masih dalam taraf rendah atau masih dalam taraf normal.
Gambar 4.5 Skala penunjukan kecepatan angina pada 4 arah mata angin
6.
pH Air
pH
adalah derajat keasaman suatu larutan. Pada penelitian ini, untuk mengukur pH
air digunakan alat yaitu Phmeter. Dimana Phmeter dicelupkan pada air sungai dan
diperoleh data penunjukan skala Ph yaitu sebagai berikut :
Air
bersifat netral dengan pH-nya pada suhu 25 °C ditetapkan sebagai 7,0.
Larutan dengan pH kurang daripada tujuh disebut bersifat asam, dan larutan
dengan pH lebih daripada tujuh dikatakan bersifat basa atau alkali. Sehingga
berdasarkan data di atas bahwa Ph air sungi martapura yaitu netral dengan Ph
7,0. Dari pH air yang telah diketahui,maka air sungai martapura belum mengalami
pencemaran.
Gambar
4.6 Ph pada air sungai
7. Potensi Sungai Martapura
Dari karakteristik
sungai martapura yang telah dilakukan, maka potensi yang dapat dikembangkan
pada aliran sungai martapura ini yaitu :
a)
Tempat pemancingan
Sungai
martapura dapat digunakan sebagai tempat pemancingan. Ini dapat terlihat dari
Ph air sungai yang menunjukkan Ph netral dan tidak ada kadar garam menunjukkan
bahwa sungai tersebut tidak tercemar. Sungai yang tidak tercemar menandakan
bahwa sungai tersebut berpotensi besar untuk tempat mahluk air berkembang
dengan baik. Apabila mahkluk air berkembang dengan baik, maka sangat baik
apabila dijadikan tempat pemancingn ikan.
Gambar
4.7 Tempat pemancingan
b)
Olahraga Air
Sungai martapura juga
berpotensi digunakan sebagai tempat olahraga air, salah satunya adalah renang.
Air sungai martapura seperti yang telah diketahui belum mengalami pencemaran, walaupun
airnya keruh.
Gambar
4.8 Olahraga Air
c)
Airnya digunakan dalam kehidupan
sehari-hari
Air
sungai martapura seperti yang telah diketahui tidak memiliki kadar air garam
sehingga bias digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Namun air ini kurang baik
digunakan secara langsung tanpa pengolahan, sebab air sungai martapura memiliki kadar kekeruhan yang tinggi.
Gambar
4.9 kegunaan air
d)
Tempat wisata pasar terapung
Sungai
martapura seperti yang kita ketahui identik dengan pasar terapungnya. Pasar
terapung ini juga menjadi maskot kota Banjarmasin. Disungai martapura ini
memang cocok digunakan untuk dijadikan tempat jual beli, sebab dengan kecepatan
air yang kecil, maka itu tidak terlalu membahayakan penjual maupun pembelinya.
Gambar 4.10 Pasar terapung
e)
Sebagai Jalur transportasi air
Sungai Martapura selain
digunakan seperti yang telah dijelaskan diatas, sungai martapura juga dapat
digunakan sebagai jalur transportasi air . Dimana dengan adanya jalur
transportasi air ini, maka masyarakat tidak hanya menggunakan transportasi
darat sehingga tingkat kemacetan dapat dihindari.
Gambar
4.11 Masyarakat menggunakan perahu
BAB
V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan penelitian yang telah
kami lakukan untuk mengetahui karakteristik air sungai martapura yang dilakukan
pada tanggal 26 mei 2016 pukul 14.15 WITA. Penelitian yang dilakukan untuk
mengetahui tingkat kekeruhan air, pH air, kecepatan air, kadar garam, suhu air
serta kecepatan angina pada daerah sekitar sungai Martapura. Dari penelitian
tersebut, diperoleh data bahwa tingkat kekeruhan air sungai Martapura cukup
tinggi. Untuk kecepatan airnya yaitu sebesar 0,14 m/s. Suhu air sebesar 350C,
kadar garam sebesar 0, Ph sebesar 7,0, dan kecepatan angin rata-rata 1,09 m/s.
Dari data tersebut terlihat jelas bahwa air pada sungai martapura masih dalam
keadaan normal atau tingkat tercemarnya sangat sedikit, walaupun kekeruhannya
tergolong tinggi.
Dengan mengetahui karakteristik air
sungai Martapura tersebut, maka potensi potensi yang dapat dikembangkan pada
daerah aliran sungai Martapura yaitu : sebagai tempat pemancingan, tempat
olahraga air, airnya dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari, tempat wisata
pasar terapung serta sebagai tempat jalur transportasi air.
B.
Saran
Dengan
dilakukan penelitian mengenai karakteristik dan potensi yang dapat dikembangkan
di Daerah aliran sungai Martapura Banjarmasin diharapkan dapat membantu
masyarakat di daerah Banjarmasin mengelola secara maksimal potensi-potensi
tersebut. Sehingga diharapkan Banjarmasin menjadi daerah lebih maju dan
berkembang dengan pesat menjadi kota idaman.
The casino with roulette machines | Vannienailor4166 Blog
BalasHapusCasino roulette game https://deccasino.com/review/merit-casino/ is one worrione of the most popular jancasino casino games in Malaysia. It offers the latest games https://vannienailor4166blog.blogspot.com/ with the best odds, with big payouts casino-roll.com and easy